Senin, 24 Januari 2011

SKRIPSI HADITS TENTANG ETIKA MAKAN

HADITS- HADITS TENTANG ETIKA MAKAN
( Studi Ma’anil Hadits Tentang Larangan Makan Berlebihan )

SKRIPSI






Oleh:
M.Rosidin Nawawi
NIM. 05027011

Diajukan kepada Fakultas Agama IslamUniversitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh
Gelar S-1 dalam Ilmu Tafsir Hadits









BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kemakmuran hidup serta taraf ekonomi yang semakin meningkat turut mempengaruhi gaya hidup masyarakat indonesia pada saat sekarang, khsususnya dalam hal pola makan sehari-hari, yang cenderung menuruti keinginan selera makan tanpa mempertimbangkan kondisi kesehatan. Menuruti selera makan (hawa nafsu) merupakan penyimpangan dari tujuan makan itu sendiri yaitu untuk memenuhi rasa lapar dan untuk mempertahankan hidup. Kondisi demikian juga terjadi di negar-negara maju lainnya termasuk Amerika. Negara Amerika merupakan negara makmur dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang relatif merata. Konsumsi makan mereka umumnya telah memenuhi bahkan melebihi standar gizi, itu sebabnya populasi orang gemuk kini merebak di Amerika. Orang Amerika Mengkonsumsi produk pangan hewani dalam jumlah besar. Mereka biasa minum susu setiap hari, makan telur 314 butir setiap tahun (atau orang indonesia hanya makan telur 50 butir setahun) dan banyak makan daging. Mengkonsumsi makanan hewani berlebihan yang banyak mengandung lemak akan berperan dalam memicu masalah kegemukan di Amerika . Sehingga pada saat ini banyak muncul berbagai penyakit karena pola makan yang tidak teratur di antaranya penyakit hipertensi, jantung, diabetes, kanker sementara penderita penyakit ini semakin banyak dan diperkirakan pada setiap tahun akan mengalami peningkatan.
Berdasarkan Data Lancet, jumlah penderita hipertensi di seluruh dunia terus meningkat. Di India, misalnya, mencapai 60,4 juta orang pada 2002 dan diperkirakan 107,3 juta orang pada 2025. Di China, 98,5 juta orang dan bakal jadi 151,7 juta orang pada 2025. Di bagian lain di Asia, tercatat 38,4 juta penderita hipertensi pada 2000 dan diprediksi jadi 67,4 juta orang pada 2025. Di Indonesia, mencapai 17-21% dari populasi penduduk dan kebanyakan tidak terdeteksi. Manusia bisa dihinggapi hipertensi tanpa merasakan gangguan atau gejalanya. Menurut Badan Kesehatan Dunia, dari 50% penderita hipertensi yang terdeteksi, hanya 25% yang mendapat pengobatan dan hanya 12,5% bisa diobati dengan baik.
Angka penderita diabetes di dunia, menurut data International Diabetes Federation saat ini sekitar 194 juta orang. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi 500 juta orang pada tahun 2025. Data penderita diabetes di Indonesia mencapai angka 8,4 juta yang akan meningkat pada 2030 menjadi sebanyak 21,3 juta penderita. Diabetes mellitus (DM) tipe 2, dikenal sebagai penyakit yang terkait dengan perubahan gaya hidup yang tidak sehat. Penyakit ini diindikasikan dengan tingginya kadar gula darah (hiperglikemik) yang pencetusnya antara lain obesitas, konsumsi gula tinggi dan minimnya aktivitas fisik.
Penyakit Jantung menjadi pembunuh nomor satu di dunia, berdasarkan American Heart Association, pada tahun 1988 diperkirakan 60 juta dari 240 juta penduduk Amerika Serikat menderita penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler). Dari angka itu, 4,8 juta di antaranya adalah Penderita Jantung Koroner. Di Indonesia, berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan RI tahun 1992 diketahui, penyakit kardiovaskuler menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian penduduk Indonesia, ada kecenderungan bahwa serangan jantung saat ini lebih banyak menimpa golongan orang dengan usia relatif muda (40 hingga 55 tahun). Lebih tragis lagi, penderita penyakit jantung ini karirnya dalam posisi puncak, baik sebagai politikus, pengacara, dokter, pengusaha dan sebagainya.
Secara bahasa makan adalah mengunyah dan menelan sesuatu, sedangkan makanan adalah segala sesuatu yang boleh dimakan , makan berarti memasukkan sesuatu ke dalam mulut kemudian dikunyah dan ditelan . Makan umumnya bertujuan untuk memenuhi rasa lapar atau untuk mempertahankan hidup.
Pola makan seseorang mempunyai peranan sosio-kultural yang beragam. Den Hartog, Hautvast, mengelompokkan berdasarkan fungsi makanan sebagai berikut : Pertama, makan berfungsi sebagai kenikmatan atau Gastronomik, yaitu untuk mencapai kenikmatan. Kesukaan akan makanan berbeda dari satu bangsa ke bangsa yang lain, dan dari daerah/suku ke daerah/suku lain. Di Indonesia memiliki kesukaan makanan antar daerah/suku sangat beragam. Makanan di Sumatra, khususnya di Sumatra Barat lebih pedas daripada makanan di Jawa, khususnya Jawa Tengah yang suka makanan manis. Secara umum makanan yang disukai adalah makanan yang memenuhi selera atau citarasa/inderawi, yaitu dalam hal rupa, warna, bau, rasa, suhu, dan tekstur.
Kedua, makanan berfungsi untuk menyatakan jati diri, makanan sering dianggap sebagai bagian penting untuk menyatakan jati diri seseorang atau sekelompok orang. Di Jepang misalnya, ikan mentah/sushi merupakan makanan terhormat untuk disajikan kepada tamu-tamu. Sebagian besar di Sumatera, daging dianggap sebagai makanan berprestige, amatlah memalukan bila kepada tamu tidak dapat menyajikan daging.
Ketiga, makanan berfungsi untuk mengukur setatus ekonomi, makanan sering digunakan untuk menunjukkan prestige dan status ekonomi. Semua budaya mempunyai makanan yang dianggap berprestige. Makan beras dianggap lebih ber prestige daripada makan jagung dan umbi-umbian.
Keempat, makanan sebagai media komunikasi makanan merupakan media penting dalam upaya manusia berhubungan satu sama lain. Dalam keluarga kehangatan hubungan antar anggotanya terjadi pada waktu makan bersama. Begitu juga antar keluarga besar diupayakan pertemuan secara berkala dengan makan-makan untuk memelihara dan mempererat hubungan silaturahmi
Salah satu kebutuhan manusia yang paling mendasar adalah makan, karena makanan dibutuhkan manusia sebagai sumber energi untuk melakukan segala aktifitas dan juga berguna untuk membantu dalam proses pertumbuhan. Dalam sistem tubuh manusia sumber nutrisi pertama berasal dari dalam tubuh sendiri seperti glikogen yang terdapat dalam otot dan hati atau protein dan lemak dalam jaringan, kedua berasal dari luar tubuh seperti makanan yang dikonsumsi oleh manusia. Selain makanan tubuh manusia juga membutuhkan cairan, sejak awal pencatatan sejarah air sudah dimuliakan bahkan dipuja dalam seluruh kebudayaan sebagai sumber kehidupan, penyembuh penyakit. Al-Qur’an sendiri berbicara masalah air Firman Allah swt :
    •          •      
“Dan Kami jadikan segala yang hidup dari air mengapa mereka tidak beriman “(QS : Al-Anbiyaa:30)
Air dibutuhkan manusia adalah sebagai pelarut untuk pencernaan, penyerapan dan metabolisme. Betapa pentingnya air sehingga dikatakan manusia hanya mampu bertahan hidup selama beberapa hari saja jika tidak minum, tetapi masih mampu mempertahankan jiwanya selama beberapa minggu jika tidak makan, tubuh manusia dapat bertahan terhadap kehilangan sebagian besar lemak dan karbohidrat dalam tubuh sekkitar 50% dari protein tubuh, namun kehilangan cairan hanya sebesar 10% dari tubuh dapat mengancam kehidupan manusia dan kekurangan lebih dari 20% cairan tubuh akan berakibat fatal . Air terdiri atas atom hidrogen dan oksigen juga berperan menghilangkan zat-zat sampah hasil metabolisme dan racun yang terbawa lewat makanan. Tubuh manusia 60-70% terdiri atas cairan dari total berat badan.
Untuk kelangsungan hidup manusia membutuhkan oksigen yang merupakan kebutuhan dasar manusia untuk bernafas, pemenuhan kebutuhan manusia akan oksigen adalah bagian dari kebutuhan fisiologis. Menurut Hierarki Maslow kebutuhan oksigen diperlukan untuk proses kehidupan. Oksigen sangat berperan dalam proses metabolisme tubuh, kebutuhan oksigen dalam tubuh harus terpenuhi karena apabila kebutuhan oksigen dalam tubuh berkurang maka akan terjadi kerusakan pada jaringan otak dan apabila hal tersebut berlangsung lama akan mengalami hipoksia dan terjadi kematian. Sistem yang berperan dalam proses pemenuhan kebutuhan adalah sistem pernafasan, persarafan dan kardiovaskuler..
Islam memandang aktifitas makan bukanlah semata-mata hanya sebagai pemenuhan kebutuhan perut dalam arti kata memenuhi rasa lapar, tetapi makan dalam pandangan Islam adalah untuk menguatkan badan dan kemudian dengan badan yang kuat, sehat maka fikiran pun terbuka dan rasa syukur kepada Allah swt semakain bertambah mendalam. . Dalam surat Al-Baqarah : 172 Allah swt berfirman ;
              
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.(QS: Al-Baqarah 172)

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini, Allah swt memerintahkan kepada hambanya yang beriman untuk makan makanan yang baik (thayyib) dari rizki yang telah Allah swt berikan kepada mereka dan memerintahkan mereka agar bersyukur kepada Allah swt dengan cara tersebut jika mereka menyembah kepada Nya, kemudian Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa makan dari makanan yang halal merupakan sebab diterimanya suatu amal dan ibadah, sebagaimana sebaliknya bahwa makan dari makanan yang haram dapat mencegah diterimanya doa dan ibadah seseorang. HAMKA dalam tafsir al-Azhar menyatakan bahwa kalau ada seruan kepada seluruh manusia agar makan makanan yang halal dan baik (QS; Al-Baqarah ayat 168), niscaya kepada kaum yang beriman perintah ini lebih ditekankan lagi, bahkan makanan yang dikonsumsi seseorang akan berpengaruh pada kehalusan dan kekasaran budi pekerti seseorang.
Dalam hal makan Nabi saw memberikan aturan-aturan tertentu di antaranya membaca bismillah pada mulanya dan al-hamdulillah pada akhirnya, makan dengan tangan kanan dan mengambil dari yang terdekat, larangan mencela makanan, juga larangan makan dengan bersandar dan kemudian bahaya makan berlebihan dan anjuran untuk mengkonsumsi makanan dengan mempertimbangkan lambung atau perut pada ruang air dan udara dengan cara makan tidak berlebihan. Sebagaimana terdapat dalam hadits.
حدثنا أبو المغيرة قال حدثنا سليمان ابن سليم الكنانى قال حدثنا يحيى ابن جابر الطائ قال سمعت المقدام بن معدى كرب الكندى قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ما ملأ آدمى وعاء شرا من بطن بحسب ابن آدم أكلات يقمن صلبه فإن كان لا محالة فثلث طعام وثلث شراب وثلث لنفسه.
.
Artinya : Telah menceritakan kepada kami Abu al-Mughirah ia berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibn Salim al-Kinani berkata telah menceritakan kepada kami Yahya ibn Jabir at-Tha i ia berkata saya telah mendengar al-Miqdad bin kariba r.a ia berkata “ Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda“ Tidaklah lebih berbahaya seseorang itu memenuhi suatu bejana melebihi bahayanya memenuhi perut, cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya dan seandainya ia tidak mampu berbuat seperti itu maka sepertiga makan, sepertiga minum, sepertiga untuk nafasnya. (HR Ahmad)

Dalam penelitian ini peneliti hanya membahas hadits-hadits tentang etika makan yang berkaitan dengan norma dalam Mengkonsumsi makanan, yaitu pada hadits larangan makan berlebihan dan anjuran membagi perut sepertiga makan sepertiga minum dan sepertiga udara untuk bernafas. Ajaran Islam dalam hal ini hadits perlu dipahami dengan pengkayaan metode pendekatan seperti ilmu kedokteran, antropologi, psikologi dan lain sebagainya, agar semakin lengkap dan tidak terkesan parsial kemudian di realisasikan dalam keseharian dan dalam konteks kekinian, termasuk hadits tentang etika makan.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas dapat diambil beberapa rumusan masalah yang dianggap relevan dan akan dicarikan jawabannya dalam penelitian ini antara lain :
1. Bagaimana kualitas sanad dan matan hadits Nabi saw tentang bahaya makan berlebihan dan anjuran membagi perut dalam tiga bagian makanan minuman dan udara untuk bernafas ?
2. Bagaimana pemahaman para ulama hadits dan para ahli kesehatan, hadits tentang bahaya makan berlebihan dan anjuran membagi perut dalam tiga bagian makanan minuman dan udara untuk bernafas?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui kualitas sanad dan matan hadits tentang bahaya makan berlebihan dan anjuran membagi perut dalam sepertiga makan sepertiga minum dan sepetiga udara untuk bernafas.
2. Untuk mengetahui pemahaman para ulama hadits dan juga para ahli kesehatan terhadap hadits tentang bahaya makan berlebihan dan anjuran membagi perut dalam sepertiga makan sepertiga minum dan sepertiga udara untuk bernafas.
D. Manfaat Penelitian
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat kepada berbagai pihak di antaranya :
1. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan peneliti tentang dalil-dalil yang sahih tentang bahayanya makan berlebihan dan anjuran membagi perut dalam tiga bagian makanan minuman dan udara untuk bernafas.
2. Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah pengetahuan Islam bagi masyarakat tentang proposional dalam makan yang dicontohkan oleh Nabi saw.

E. Metode Penelitian
Jenis Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library reseach). Dalam hal ini peneliti akan meneliti hadits-hadits tentang larangan makan berlebihan dan anjuran membagi lambung dalam tiga bagian air makan dan udara yang terdapat dalam kitab-kitab hadits yang dikenal dengan Kutub al-Tis’ah. Sementara sifat penelitian ini adalah deskriptif-analitis, yaitu berusaha memaparkan secara sistematis faktual dan akurat sesuai dengan rumusan ilmu-ilmu hadits dan menganalisanya dengan cermat
Adapun langkah yang ditempuh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dengan cara mengumpulkan data-data primer /buku utama dan juga mengumpulkan data-data sekunder yaitu buku penunjang yang diharapkan bisa meluaskan cakrawala pemahaman dan agar tajam dalam penganalisaan nanti. Maka dalam penelitian ini yang menjadi sumber primer adalah kitab-kitab hadits yang dikenal dengan Kutub al-Tis’ah (As-Sahih Bukhari, As-Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan An-nasa’I, Sunan Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan Ad-Darimi, Musnad Ahmad bin Hanbal dan al-Muwatta’ Imam Malik) maupun kitab syarah hadits yang memuat hadits tentang bahaya makan berlebihan dan anjuran membagi perut dalam tiga bagian makanan minuman dan udara untuk bernafas. Kemudian untuk membantu proses pencarian hadits peneliti menggunakan al-Mu’jam al-Mufahras li alfadz al-hadits an-Nabawi karya A.J Wensink. Pada langkah selanjutnya untuk mengumpulkan data-data mengenai biografi para perawi berikut pendapat ulama kritik hadits peneliti merujuk pada kitab-kitab tentang biografi rawi (Rijal hadits) yaitu Tahdzib at-Tahdzib dan Tahdzib al-Kamal fi Asma ar-Rijal dan juga kitab yang khusus memuat biografi sahabat seperti al-Isabah fi Tamyis as-Sahabah. Adapun data-data sekunder dalam penelitian ini adalah berupa buku, majalah, atau artikel-artikel yang terkait dengan tema yang dikaji dalam penelitian ini.
2. Analisis Data
Data-data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan metode :
a. Tahqiq al-Hadits.
Adapun langkah yang dilakukan pada tahap ini sebagai berikut ;
1) Takhrij al-hadits
Dengan memaparkan matan-matan hadits serta mengeluarkan hadits dari sumber aslinya dengan mencantumkan mukharrij hadits, sumber kitab, nomor dan tema hadits yang akan diteliti.
2). Kritik Sanad
Berusaha melakukan i’tibar untuk mengetahui periwayat yang berstatus syahid dan mutabi', setelah itu mengkritik periwayatnya dengan memaparkan beberapa kritik para ulama hadits terhadap para perawi hadits
3). Kritik Matan
Setelah dilakukan kritik ekstern langkah selanjutnya adalah menganalisis terhadap matan hadits. Dengan mengkonfirmasikan hadits tersebut dengan al-Qur'an maupun ilmu lain yang terkait.
4). Natijah
Setelah dilakukan penelitian terhadap sanad dan matan hadits tentang bahayanya makan berlebihan dan anjuran membagi perut dalam tiga bagian makanan minuman dan udara untuk bernafas, maka dibuat kesimpulan yang berisi nilai atau kualitas sanad dan matan hadits
b. Metode Ma'anil Hadits
Dalam penelitian ini metode yang akan digunakan untuk melakukan pemahaman terhadap hadits tentang bahaya makan berlebihan dan anjuran membagi perut dalam tiga bagian makanan minuman dan udara untuk bernafas adalah metode yang ditawarkan oleh Yusuf Qardhawi, dengan langkah-langkah sebagai berikut
1) Memahami hadis dengan petunjuk al-Qur'an
2) Menghimpun hadis-hadis dalam tema yang sama
3) Memadukan atau mentarjih hadits-hadits yang bertentangan
4) Memahami hadis berdasarkan latar belakang, kondisi dan tujuannya
5) Membedakan makna hakiki dan majazi
6) Membedakan antara yang ghaib dan yang nyata
F. Tinjauan Pustaka
Nilai Kesehatan dalam Syari’at Islam oleh Ahmad Syauqi al-Fanjari dalam buku tersebut menjelaskan tentang hubungan kesehatan dengan agama Islam. Agama Islam berbeda dengan agama yang lain yang datang sebelumnya, Islam datang sebagai agama dan untuk kepentingan duniawi dan ukhrawi secara simultan (bersamaan). Maka dalam Islam terdapat ajaran yang berkaitan dengan ilmu kedokteran, pengobatan dan kesehatan masyarakat yaitu dengan istilah at-Tibul wiqo’i yang mencakup beberapa pembahasan sebagai berikut ;
1. Sanitation and personel hygiene (kesehatan lingkungan dan kesehatan perorangan) meliputi kebersihan badan,tangan gigi kuku dan rambut. Demikian juga kebersihan lingkungan jalan, rumah, tata kota, saluran irigasi, sumur serta tebing-tebing.
2. Epidemiologi (Preventif penyakit menular) melalui karantina preventif kesehatan dengan, tidak memasuki suatu daerah yang terjangkit wabah penyakit menular seperti kolera dan tidak boleh keluar dari tempat tersebut.
3. Memerangi binatang melata serangga dan hewan yang menularkan penyakit kepada orang lain. Oleh karena itu diperintahkan agar membunuh tikus, kalajengking dan musang serta membunuh serangga yang berbahaya seperti cicak, kutu, lalatdan makruh memelihara anjing di rumah, menajiskan air liurnya, diperintahkan untuk membunuh anjing liar dan anjing gila. Sedangkan babi ecara mutlak dimasukkan sebagai binatang yang haram.
4. Nutrition (kesehatan makanan)
masalah ini terbagi dalam tiga bagian ;
a. Menu makanan yang berfaedah terhadap kesehatan jasmani seperti tumbuh- tumbuhan daging binatang dan madu kurma dan susu.
b. Tata cara makan, Islam melarang berlebih-lebihan dalam hal makanan, makan bukan karena lapar hingga kekenyangan diet ketika sedang sakit,memerintahkan berpuasa agar usus dan perut besarnya dapat beristirahatdan tidak berbuka dengan berlebih-lebihan atau melampaui batas.
c.mengharamkan sesuatu yang berbahaya bagi kesehatan seperti bangkai, darah, dan daging babi,

Artikel yang ditulis oleh Muhammad Zulifan dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa makan termasuk kebutuhan dharuriyah yaitu utuk mempertahankan jiwa dan raga untuk kelangsungan hidup. Seorang muslim hendaknya ketika makan agar tidak berlebih-lebihan sesuai dengan hadits Nabi ”behentilah makan sebelum kenyang” kemudian hadits ini dikaitkan dengan konsep kepuasan bahwa pada saat seseorang telah mencapai kepuasan maksimum dalam hal makan maka ia harus berhenti makan, jika ia terus makan maka tingkat kepuasan seseorang tersebut akan semakin menurun karena orang tersebut telah melampaui kebutuhan akan makanan.
Prinsip Dasar Ilmu Gizi oleh Sunita Almatsir dalam buku tersebut membahas tentang ilmu gizi yang meliputi pengertian, ruang lingkup ilmu gizi serta kebutuhan manusia akan gizi vitamin karbohidrat protein. Di samping itu juga terdapat pembahasan tentang akibat dari kelebihan energi. Yaitu kelebihan energi terjadi bila konsumsi energi melalui makanan melebihi energi yang dikeluarkan, kelebihan energi ini akan diubah menjadi lemak tubuh akibatya terjadi berat badan lebih atau kegemukan. Kegemukan bisa disebabkan oleh kebanyakan makan dalam hal karbohidrat lemak maupun protein tetapi juga karena kurang gerak. Kegemukan ini dapat menyebabkan gangguan dalam fungsi tubuh merupakan resiko untuk menderita penyakit kronis seperti diabetes militus, hipertensi, penyakit jantung koroner, penyakit kangker dan dapat memperpendek harapan hidup.
Etika makan, minum, pakaian, dan membangun rumah oleh Muhammad al-Gazali dalam bukunya Studi kritis atas Hadits Nabi saw Antara Pemahaman Tekstual dan Kontekstual pada bab ke IV . Pada bab ini al-Gazali menguraikan tentang hadits-hadits yang berkaitan dengan makan. Hendaknya membaca basmalah sebelum memulai makan dan membaca alhamdulillah setelahnya, makan dengan tangan kanan serta makan menggunakan nampan secara bersama-sama dan juga hadits tentang meletakkan makanan di atas tanah. Pada bab ini belum ada pembahasan yang berkaitan dengan hadits bahaya makan berlebihan dan anjuran membagi perut dalam tiga bagian makanan minuman dan udara untuk bernafas.
Hasil penelitian oleh Risma Qumilaila fakultas Ushuludin UIN tentang Perlindungan Konsumen Terhadap Bahan-Bahan Kimia yang Berbahaya pada Makanan. Adanya bahaya yang timbul karena bahan-bahan kimia yang ada pada makanan di antara bahan kimia tersebut antara lain borak yang digunakan sebagai bahan pengawet yang mengandung logam berat boron, formalin juga bahan pengawet yang biasa digunkan pada mayat dan Rodhanim B jenis zat pewarna yang digunkakan pada tekstil. Adapun akibat jika mengkonsumsi zat-zat tersebut yaitu jika zat-zat tersebut terakumulasi pada tubuh manusia dalam jangka panjang akan mengakibatkan berbagai penyakit seperti kanker, tumor, Di samping itu dalam jangka pendek zat-zat kimia tersebut dapat mempengaruhi fungsi otak, yang mengakibatkan susah tidur dan gangguan konsentrasi dan hiper aktif sehingga dapat memperberat pada penderita autisme. Pada penelitian tersebut membahas adanya unsur bahan kimia yang berbahaya pada makanan tetapi dalam pembahasannya belum mencakup tentang bahaya makan berlebihan.
Abu Bakar Jabir al-Jazairi dalam kitabnya Minhajul Muslim pada pasal ke IX membahas tentang adab makan dan minum. Pada bab tersebut Abu Bakar Jabir al-Jazairi menguraikan beberapa adab makan yang terbagi dalam tiga bagian. Pertama adab sebelum makan di antaranya mencuci tangan sebelum makan, menempatkan makanan tidak di atas meja tapi di lantai, bersikap duduk dan tidak bersandar ketika hendak makan. Kedua adab ketika makan memulai dengan bismillah, larangan meniup makanan yang masih panas, hendaknya menghindari makan berlebihan. Ketiga adab sesudah makan, berhenti makan sebelum kenyang, mengambil makanan yang terjatuh pada saat makan dan mengakhiri dengan al-hamdulillah,
Dari penelusuran peneliti terhadap sejumlah literatur sampai sejauh ini belum ada pembahasan hadits tentang bahaya makan berlebihan dan anjuran membagi perut dalam tiga bagian makanan minuman dan udara untuk bernafas dengan melakukan penelitian sanad dan matan maupun makna secara menyeluruh. Dengan demikian maka tema dalam penelitian ini layak untuk diteliti lebih lanjut.

G. Sistimatika Pembahasan
Bab pertama ; berupa pendahuluan, menjelaskan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka ,metode penelitian dan sistimatika pembahasan.
Bab dua ; Berupa pembahasan seputar arti penting pola makan dalam literatur ilmu gizi yang meliputi fungsi makanan bagi tubuh manusia, proses pencernaan makanan serta organ-organ pencernaan dan berbagai penyakit yang timbul karena pola makan tidak teratur.
Bab tiga, Kritik Sanad dan Matan Hadits Tentang Etika Makan dengan memaparkan matan-matan hadits (takhrij al-hadits) sehingga terlihat variasi sanad matannya dan mengadakan i’tibar untuk mengetahui periwayat yang berstatus syahid atau mutabi', setelah itu mengkritik periwayatnya (an-Naqd al-Khariji) sehingga terlihat kualitasnya kemudian menganalisis matan hadits (an-Naqd ad-Dakhili)agar didapatkan kehujjahan hadits untuk dimaknai lebih lanjut.
Bab empat, pada bab ini akan menampilkan pembahasan tentang proses pemaknaan hadits. Langkah pertama memaknai dengan berdasarkan ayat-ayat al-Qur'an kemudian mengumpulkan hadits-hadits dalam satu tema serta pembahasan tentang tinjauan hadits etika makan dalam ilmu kesehatan
Bab lima ; adalah penutup terdiri dari dua bagian, bagian pertama menguraikan kesimpulan dari analisis yang telah dilakukan pada bab-bab sebelumnya dan merupakan jawaban dari perumusan masalah yang menjadi obyek penelitian. Bagian kedua berisi saran-saran yang ditujukan kepada para pembaca sekalian.











BAB II

ARTI PENTING POLA MAKAN DALAM
LITERATUR ILMU GIZI

A. Fungsi Makanan Bagi Tubuh Manusia

Sejak zaman purba manusia telah menyadari pentingnya makanan untuk kelangsungan hidup. Pada tahun 400 SM Hippo Crates dia adalah bapak ilmu kedokteran mengibaratkan makanan sebagai panas yang dibutuhkan manusia. Anak-anak yang sedang mengalami masa pertumbuhan membutuhkan banyak panas karena itu mereka membutuhkan banyak makanan. Sedangkan bagi orang dewasa lebih sedikit membutuhkan panas maka orang tua membutuhkan lebih sedikit makanan.
Makanan yang dikonsumsi seseorang memiliki beberapa fungsi pada tubuh didasarkan pada kandungan makanan yang dikonsumsi. Zat-zat yang terkandung dalam makanan dapat berupa karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Berikut penjelasan beberapa fungsi makanan tersebut :
1. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber kalori utama bagi hampir seluruh dunia, khusususnya bagi penduduk negara yang sedanga berkembang. Walaupun jumlah kalori yang dapat dihasilkan oleh 1 gram karbohidrat hanya 4 kal (kkal) bila dibanding protein dan lemak, karbohidrat merupakan sumber kalori yang murah. Selain itu beberapa karbohidrat menghasilkan serat-serat (dietary fiber) yang berguna bagi pencernaan. Makanan yang banyak mengandung karbohidrat ber fungsi antara lain, Pertama sebagai sumber energi, fungsi utama karbohidrat adalah menyediakan energi bagi tubuh. Satu gram karbohidrat mampu menghasilkan 4 kkalori. Sebagian karbohidrat di dalam tubuh berada dalam sirkulasi darah sebagai glukosa, untuk keperluan energi segera sebagian disimpan sebagai glikogen dalam hati dan jaringan otot, dan sebagian diubah menjadi lemak untuk kemudian disimpan sebagai cadangan energi di dalam jaringan lemak. Seseorang yang makan karbohidrat dalam jumlah berlebihan akan menjadi gemuk. Sistem saraf sentral dan otak sama sekali tergantung pada glukosa untuk keperluan energinya.
Kedua, karbohidrat berfungsi sebagai pemberi rasa manis pada makanan, karbohidrat memberi rasa manis pada makanan, khususnya mono dan disakarida. Sejak lahir manusia menyukai rasa manis. Alat kecapan pada ujung lidah merasakan rasa manis tersebut. Gula tidak mempunyai rasa manis yang sama. Fruktosa adalah gula paling manis, bila tingkat kemanisan sakarosa di beri nilai 1 maka tingkat kemanisan fruktosa adalah 1,7; glukosa 0,7; maltosa 0,4; laktosa 0,2.
Ketiga, karbohidrat berfungsi sebagai penghemat protein, bila karbohidrat makanan tidak mencukupi, maka protein akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi, dengan mengalahkan fungsi utamanya sebagai zat pembangun. Sebaliknya bila karbohidrat makanan mencukupi, protein terutama akan digunakan sebagai zat pembangun.
Keempat, karbohidrat sebagai pengatur metabolisme lemak, Karbohidrat mencegah terjadinya oksidasi lemak yang tidak sempurna, sehingga menghasilkan bahan-bahan keton berupa asam asetoasetat, aseton, dan asam beta-hidroksi-butirat. Bahan-bahan ini dibentuk dalam hati dan dikeluarkan melaui urine mengikat basa berupa ion natrium. Hal ini dapat menyebabkan ketidak seimbangan natrium dan dehidrasi. pH cairan tubuh menurun keadaan ini menimbulkan ketosis atau asidosis yang dapat merugikan tubuh. Dibutuhkan antara 50-100 gram karbohidrat sehari untuk mencegah ketosis.
Kelima, Fungsi karbohidrat dapat membantu pengeluaran feses, karbohidrat membantu pengeluaan feses dengan cara mengatur peristaltik usus dan memberi bentuk pada feses. Selulosa dalam serat makanan mengatur peristaltik usus. Sedangkan hemiselulosa dan pektin mampu menyerap banyak air dalam usus besar sehingga memberi bentuk pada sisa makanan yang akan dikeluarkan.
Sumber makanan yang banyak mengandung karbohidrat ialah padi-padian atau serealia, umbi-umbian, kacang-kacang kering, dan gula. Hasil olah bahan-bahan ini adalah bihun, mie, roti, tepung-tepungan, selai, sirup, dan sebagainya. Sumber karbohidrat yang banyak dimakan sebagai makanan pokok di Indonesia adalah beras, jagung, ubi, singkong, talas dan sagu. Kandungan karbohidrat beberapa bahan makanan dapat dilihat pada tabel pada lampiran 1.
2.Lemak
Lemak dan minyak merupakan zat makanan yang penting untuk menjaga kesehatan tubuh manusia. Minyak atau lemak khususnya minyak nabati, mengandung asam-asam lemak esensial seperti asam linoleat, lenolenat dan arakidonat yang dapat mencegah penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan kolesterol. Lemak dan minyak merupakan merupakan sumber energi paling padat, yang menghasilkan 9 kkalori untuk tiap gram yaitu 21/2 kali lebih besar energi yang dihasilkan oleh karbohidrat dan protein dalam jumlah yang sama. Lemak dan minyak terdapat pada hampir semua bahan pangan dengan kandungan yang berbeda-beda terutama bahan yang berasal dari hewan. Lemak dalam jaringan hewan terdapat pada jaringan adiposa sedangkan pada tanaman lemak disintesis dari satu molekul gliserol dengan tiga molekul asam lemak yang terbentuk dari kelanjutan oksidasi karbohidrat dalam proses respirasi.
3.Protein
Protein merupakan suatu zat makanan yang amat penting bagi tubuh , karena zat ini di samping berfungsi sebagai bahan bakar dalam tubuh juga berfungsi sebagai zat pembangun dan pengatur. Protein adalah sumber asam-asam amino yang mengandung unsur-unsur C, H, O, dan N yang tidak dimiliki oleh lemak atau karbohidrat. Protein mempunyai bermacam-macam fungsi bagi tubuh antara lain sebagai enzim, zat pengatur pergerakan, pertahanan tubuh, alat pengangkut.
4.Vitamin
Istilah Vitamin berasal dari kata Vital Amine yang berarti suatu komponen amine yang penting. Istilah ini ditemukan oleh seorang ahli kimia berkebangsaan polandia di Listes Institute di London pada tahun 1912. Vitamin merupakan bahan makanan pelengkap yang berfungsi antara lain untuk mengatur metabolisme tubuh, membantu mengkoversi lemak dan karbohidrat menjadi energi serta membantu dalam pembentukan tulang dan jaringan tubuh. Hampir semua vitamin yang ada sekarang telah berhasi diidentifikasi sejak tahun 1930. Vitamin tersebut dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan utama yaitu vitamin yang larut dalam lemak yang meliputi A, D, E dan K dan vitamin yang larut dalam air yang terdiri dari vitamin C dan vitamin B.
5. Mineral
Sebagian besar bahan makanan, sekitar 96% terdiri dari bahan organik dan air sisanya terdiri dari unsur-unsur mineral. Unsur mineral juga dikenal sebagai zat organik atau kadar abu. Dalam proses pembakaran, bahan–bahan organik terbakar tetapi zat anorganik-nya tidak, karena itulah disebut abu. Mineral merupakan bagian dari tubuh dan memegang peranan penting dalam pemeliharaan fungsi tubuh, baik pada tingkat sel, jaringan,organ maupun fungsi tubuh secara keseluruhan. Sumber mineral paling baik adalah makanan hewani, magnesium yang lebih banyak terdapat di dalam makanan nabati. Hewan memperoleh mineral dari tumbuh-tumbuhan dan menumpuknya di dalam jaringan tubuh, di samping itu mineral berasal dari makanan hewani mempunyai ketersediaan biologik lebih tinggi daripada berasal dari makanan nabati. Makanan hewani mengandung lebih sedikit bahan-pengikat-mineral daripada makanan nabati.
B. Proses Pencernaan Makanan
Sistem pencernaan sangat terkait dengan penerimaan makanan dan mem- persiapkannya untuk diasimilasi oleh tubuh. Selama dalam proses pencernaan, makanan dihancurkan menjadi zat-zat sederhana yang dapat diresap dan digunakan oleh sel jaringan tubuh. Berbagai perubahan sifat makanan terjadi karena kerja berbagai enzim yang terkandung dalam berbagai cairan pencerna. Setiap jenis zat ini mempunyai tugas khusus–menyaring dan bekerja atas satu jenis makanan dan tidak berpengaruh pada jenis lainnya. Ptialin misalnya bekerja hanya atas gula dan tepung sedangkan pepsin hanya atas protein. Berikut penjelasan organ-organ pencernaan pada manusia :
1. Mulut
Proses pencernaan dimulai di mulut, Ketika seseorang sedang mengunyah maka gigi geligi memecah makanan menjadi bagian-bagian kecil, sementara makanan bercampur dengan cairan ludah untuk memudahkan proses menelan. Makanan yang ditelan akan melewati epiglotis, suatu katub yang mencegah makanan masuk trakea ke paru-paru. makanan yang ditelan dinamakan bolus.
2. Esofagus (kerongkongan)
Bolus (makanan yang ditelan) kemudian melalui pipa esofagus masuk lambung. Dinding lambung mengeluarkan sekresi untuk keperluan pencernaan makanan. Pada pintu lambung ada sfingter kardiak yang menutup setelah bolus masuk sehingga makanan tidak kembali masuk ke esofagus. Bolus dalam lambung bercampur dengan cairan lambung dan digiling halus menjadi cairan yang dinamakan kimus (cbyme). Lambung kemudian sedikit demi sedikit menyalurkan kimus melalui sfingter pilorus ke dalam usus halus setelah mana sfingter pilorus menutup
3. Lambung
Lambung adalah bagian dari saluran pencernaan yang dapar mekar paling banyak. Terletak terutama di daerah epigastrik, dan sebgaian sebelah kiri daerah hipokhodriak dan umbilikal. Di antara seluruh bagian saluran cerna, lambung mempunyai dinding paling tebal dan otot paling kuat. Di samaping otot-otot yang melingkar dan memanjang, lambung mempunyai lapisan otot diagonal yang secara bergiliran berkontraksi dan mengendor. Sementara ketiga macam otot ini menekan kimus kebawah, sfingter pilorus tetap tertutup rapat untuk mencegah kimus masuk kedalam duodenum. Akibatnya kimus diaduk dan ditekan kebawah mengenai sfingter pilorus tetapi tetap berada di dalam lambung. Sementara itu lambung mengeluarkan cairan lambung. Bila kimus menjadi cairan halus sfingter pilorus membuka sebentar (kira-kira per menit) dan kimus keluar sedikit demi
4. Usus Halus
Usus halus adalah tabung yang kira-kira sekitar dua setengah meter panjang dalam keadaan hidup. Angka yang biasa diberikan enam meter adalah penemuan setelah mati Selain enzim-enzim tersebut usus halus Pada bagian atas usus halus kimus (Bolus dalam lambung bercampur dengan cairan lambung dan digiling halus menjadi cairan) melewati lubang saluran empedu yang meneteskan cairan ke dalam usus halus berasal dari dua alat, yaitu kantong empedu dan pankreas. Kimus kemudian melalui tiga bagian dari usus halus : jejunum (bagian usus halus sesudah duodenum sampai ke ileum) dan ileum (ujung usus halus), yang panjangnya kurang lebih enam meter. Sebagian besar pencernaan diselesaikan di duodenum, jejunum dan ileum terutama berfungsi meng-absorpsi zat-zat gizi.
5. Usus Besar (kolon)
Kimus melalui sfingter lain, yaitu katup ileosekal yang berada pada awal usus besar di bagian kanan perut. Kimus kemudian melewati lubang lain yang menuju ke apendiks (usus buntu) dan beralan melalui usus besar naik(ascending colon) ke usus besar meintang dan keusus besar turun ke dalam rektum.


C. Beberepa Jenis Penyakit Akibat Pola Makan
Beberapa penyakit timbul karena pola makan tidak teratur (berlebihan) tanpa di imbangi dengan aktifitas yang memadai. Kelebihan energi terjadi bila konsumsi energi melalui makanan melebihi energi yang dikeluarkan, kelebihan energi ini akan diubah menjadi lemak tubuh akibatnya terjadi berat badan lebih atau kegemukan. Kegemukan merupakan salah satu faktor resiko terjadinya berbagai penyakit degeneratif seperti hipertensi atau tekanan darah tingggi, Jantung koroner, hati, diabetes mellitus, kanker, kantung empedu. Berbagai penyakit tersebut dapat memperpendek harapan hidup, adapun penjelasan beberapa penyakit degenarif adalah sebagai berikut :
1. Hipertensi
Hipertensi, penyakit ini merupakan salah satu penyakit degenaratif yang menakutkan penyakit hipertensi erat kaitannya dengan umur, semakin tua seseorang maka semakin besar risiko terserang hipertensi, konsumsi natrium (garam) disinyalir dapat memicu hipertensi, sebenarnya hanya kelompok-kelompok tertentu di masyarakat yang peka terhadap natrium, tetapi untuk amannya maka sering dikatakan bahwa natrium bisa menjadi pencetus hipertensi sehingga masyarakat bisa semakin waspada. Seseorang dikatakan mengalami hipertensi yaitu apabila tekanan darah sisitolik/diastolik lebih besar daripada 130/90 mm hq. Banyak ahli yang telah melakukan penelitian mengenai mekanisme terjadinya hipertensi dan kaitannya dengan konsumsi gizi. Salah satu teori menyebutkan bahwa meningkatnya konsumsi kalori dalam bentuk karbohidrat dan lemak akan meningkatkan aktifitas sistem syaraf simpatetik yang akhirnya akan menyebabbkan hipertensi. Biasanya orang-orang kegemukan cenderung mempunyai tekanan darah tinggi ada dugaan bahwa berat badan relatif 10% mengakibatkan tekanan darah 7 mm Hg. Sementara terdapat teori lain penyebab hipertensi adalah bila ginjal mengalami gangguan sehingga tidak dapat mengekskresikan natrium (Na) dalam jumlah normal akibatnya natrium didalam tubuh dan volume indra vaskular meningkat sehingga terjadilah hipertensi
Penyebab lain adanya hipertensi adalah kebiasaan merokok konsumsi C a dan K yang rendah dapat pula menimbulkan hipertensi. Mineral-mineral ini mudah ditemukan pada sayuran maupun buah-buahan Kenaikan berat badan akibat konsumsi kalori berlebihan berdampak buruk bagi tekanan darah dan menjadi lebih rentan terhadap masalah hipertensi. Hipertensi dan kegemukan ini menjadi penyebab risiko munculnya penyakit jantung koroner yang mengakibatkan kematian maka untuk mencegah munculnya hipertensi disarankan agar Mengkonsumsi ikan ditingkatkan karena ikan banyak mengandung asam lemak omega-3 .
2. Jantung Koroner
Seseorang makan berlebihan, banyak kalori yang masuk dalam tubuh, maka tubuh dipaksa untuk menghasilkan insulin dalam jumlah ekstra untuk mengubah karbohidrat menjadi gula darah, kehadiran insulin yang terlalu banyak memicu terjadinya persekongkolan dengan lemak yang kemudian merusak pembuluh darah, akhirnya pembuluh darah akan berisi oleh segala macam kotoran termasuk kolesterol dan menyumbat aliran darah sehingga memunculkan penyakit jantung koroner
Penyakit jantung, berdasarkan survai kesehatan rumah tangga (1992) telah menjadi penyakit pembunuh nomer satu di dunia penyakit pembunuh lainnya adalah TBC yang diakibatkan oleh sanitasi lingkungan yang buruk karena kondisi ekonomi yang rendah Penderita hipertensi pria berisiko menderita penyakit jantung 2,6 kali lebih besar sementara wanita hipertensi berisiko 6 kali lipat penderita diabetes mempunyai risiko 2 kali lipat terserang penyakit jantung hal ini menunjukkan bahwa dampak yang tidak menguntungkan bila kita sudah terserang salah satu penyakit degenaratif karena memicu timbulnya penyalkit degenaratif yang lain . Semakin tinggi kadar kolesterol dalam darah maka semakin besar pula risiko terkena penyakit jantung. Orang yang berdasarkan keturunannya mempunyai kadar kolesterol 8.14 m,mol menghadapi risiko mengidap penyakit jantung 10 kali lipat dibandingkan dengan orang yang mempunyai nilai kolesterol 6 m.mol dengan jenis kelamin dan umur yang sama. Kebiasaan merokok juga dapat menimbulkan penyakit jantung sementara itu kadar kolesterol darah ikut menetukan munculnya penyakit jantung pengaturan kadar kolesterol darah dapat dilakukan dengan mengatur menu makanan yang dikonsumsi, konsumsi pangan rendah lemak rendah kolesterol akan mengurangi risiko peningkartan kolesterol darah. Kolesterol sebenarnya selalu dibutuhkan oleh tubuh kita sepanjang kita bisa mengatur kebutuhan kolesterol ini
3. Diabetes
Diabetes atau penyakit gula darah termasuk salah satu penyakit degenaratif yang ditakuti. Diabetes pada orang dewasa di akibatkan oleh rendahnya insulin yang diproduksi oleh kelenjar pankreas tetapi diabetes pada anak sering kali di sebabkan karena kegagalan pankreas sehingga anak menjadi sangat tergantung pada suplai insulin dari luar . Faktor genetik diperkirakan ikut berperan timbulnya penyakit diabetes, bila orang tua menderita diabetes maka peluang anak menderita diabetes juga semakin besar, di samping itu juga kegemukan juga menjadi faktor risiko penyakit diabetes. Orang gemuk mempunyai peluang tiga kali lebih besar untuk terserang diabetes di bandingkan orang dengan bobot badan normal. Di samping itu dibetes disebabkan oleh karena insulin yaitu kelenjar yang dikelurkan oleh organ pankreas tidak dapat memindahkan gula dari darah ke dalam sel-sel, karena sel-sel yang bekerja dalam tubuh sangat membutuhkan gula sebagai bahan energi. Sehingga terjadi penumpukan gula dalam darah maka terjadilah diabetes. Rendahnya konsumsi serat dan konsumsi lemak berlebihan juga bisa menjadi pemicu munculnya dibetes. Bagi masyarakat yang masih banyak mengandalkan pangan nabati didalam menunya sehari-hari maka suplai serat kasar di perkirakan bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
4. Kanker
Kanker merupakan penyakit yang masih sulit ditemukan obatnya oleh karena itu pencegahan kanker dengan pengaturan diet merupakan upaya yang baik. Semua orang dapat terserang penyakit ini, tidak peduli kaya atau miskin, kulit putih atau hitam, gemuk atau kurus, laki-laki atau perumpuan, tetapi umumnya kanker lebih banyak menyerang orang berusia lanjut, yaitu antara 45-64 tahun, kecuali leukemia. Telah terbukti bahwa adanya riwayat keluarga penderita kanker, seperti kanker payudara, usus besar dan kandungan, keturunannya akan mempunyai risiko tinggi untuk terkena kanker tersebut. Dalam lingkungan hidup kita di dunia modern ini, dengan adanya industrialisasi dan banyaknya makanan yang telah diproses terlebih dahulu, maka banyak sekali ditemukan zat-zat ataupun benda-benda yang berupa karsinogen yang dapat menyebabkan kanker. Contohnya : radiasi sinar X dan sinar ultraviolet dari matahari; zat-zat pengawet dan zat-zat pewarna; bahan-bahan kimia dari industri, seperi amin aromatik, asbes, ter (carbon hitam); asap hitam, alkohol dan obat-obatan. Begitu juga infeksi oleh virus dapat menyebabkan terjadinya kanker, seperti : virus hepatitis B dan C (kanker hati), virus Papiloma (kanker leher rahim), virus Eipstein Barr (kanker nasofaring), virus Sarcoma, virus AIDS dan lain-lain. Kanker mulut dan kanker krongkongan berkaitan erat dengan konsumsi alkohol dan kebiasaan merokok. Sementara itu kanker perut disebabkan oleh konsumsi nitrit, nitrit bisa berakumulasi dalam tubuh kita bila Mengkonsumsi secara konsisten pangan yang didalamnya mengandung nitrit. Nitrit sering digunakan sebagai bahan pengawet pada makanan seperti hot dog. Makanan yang diasap diduga menyebabkan kanker gastrik sedangkan makanan yang terkontaminasi aflatoksin dapat menyebakan kanker hati. Aflatoksin adalah racun yang dihasilkan oleh jamur yang tumbuh pada kacang-kacangan. Rendahnya konsumsi betakaroten dapat menyebakan kanker paru, beta karoten adalah zat yang banyak terdapat pada pangan nabati yang berwarna oranye.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa makanan yang dikonsumsi seseorang memiliki beberapa fungsi pada tubuh didasarkan pada kandungan makanan yang dikonsumsi. Zat-zat yang terkandung dalam makanan dapat berupa karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Karbohidrat befungsi sebagai sumber tenaga, lemak sebagai penyusun membran sel, sebagai pelarut vitamin A,D,E,dan K, serta sebagai cadangan makanan bagi tubuh, protein berfungsi untuk pertumbuhan dan mengganti sel-sel tubuh yang rusak. sedangkan vitamin dan mineral di antaranya sebagai pembentukan pigmen penglihatan, memelihara jaringan epitel, pembentukan enzim metabolisme karbohidrat, pembentukan enzim untuk metabolisme lemak, pembentukan inti sel. Timbulnya berbagai penyakit dapat diakibatkan karena pola makan yang salah yaitu yang cenderung berlebihan misalnya konsumsi natrium (garam) disinyalir dapat memicu hipertensi, selai itu meningkatnya konsumsi kalori dalam bentuk karbohidrat dan lemak akan meningkatkan aktifitas sistem syaraf simpatetik yang akhirnya akan menyebabbkan hipertensi. Diabetes banyak disebabkan karena rendahnya konsumsi serat dan konsumsi lemak berlebihan. Sedangkan rendahnya konsumsi betakaroten dapat menyebakan kanker paru, beta karoten adalah zat yang banyak terdapat pada pangan nabati yang berwarna oranye.
Maka untuk mengantisipasi segala penyakit tersebut dapat dilakukan dengan mengatur menu makanan yang dikonsumsi dengan memperhatikan kandungan gizi pada makanan.














BAB III
ANALISA SANAD DAN MATAN HADITS ETIKA MAKAN

A. Takhrij Hadits
Langkah pertama untuk sampai kepada kesimpulan yang di inginkan adalah men-takhrij semua redaksi yang ada dalam kitab sumbernya. Beberapa metode dalam melakukan takhrij antara lain :
a. Dengan cara mengetahui sahabat yang meriwayatkan hadis
b. Dengan mengetahui lafadz pertama dari matan hadis.
c. Dengan mengetahui lafadz matan hadits yang paling sedikit.
d. Dengan mengetahui pokok bahasan hadis atau sebagian jika mengandung beberapa pembahasan.
e. Dengan meneliti keadaan hadis baik dalam sanad maupun matannya.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan kitab al-Mu’jam al-Mufahras li al-Fadz al-Hadits an-Nabawi selanjutnya untuk memudahkan peneliti menggunakan CD Mausu’ah Hadits asy-Syarif melalui penelusuran matan hadits (kalimat min matn al-hadits) kata yang dipakai dalam penelusuran ini adalah,
(ما ملأ) Berikut hasil penelusuran takhrij ;
حدثنا أبو المغيرة قال حدثنا سليمان ابن سليم الكنانى قال حدثنا يحيى ابن جابر الطائ قال سمعت المقدام بن معدى كرب الكندى قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ما ملأ آدمى وعاء شرا من بطن بحسب ابن آدم أكلات يقمن صلبه فإن كان لا محالة فثلث طعام وثلث شراب وثلث لنفسه .
.
Artinya : Telah menceritakan kepada kami Abu al-Mughirah ia berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibn Salim al-Kinani berkata telah menceritakan kepada kami Yahya ibn Jabir at-Tha i ia berkata saya telah mendengar al-Miqdad bin kariba r.a ia berkata“ Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda“ Tidaklah lebih berbahaya seseorang itu memenuhi suatu bejana melebihi bahayanya memenuhi perut, cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya dan seandainya ia tidak mampu berbuat seperti itu maka sepertiga makan, sepertiga minum, sepertiga untuk nafasnya. (HR Ahmad)

Setelah melakukan penelusuran hadits tersebut juga terdapat dalam kitab-kitab hadits sebagai berikut Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Adapun variasi matan dan sanad hadits sebagai berikut:
a. Tirmidzi kitab Az-Zuhd ‘an Rasulillah bab Ma ja a fi karahiyatu katsratu al-akli hadits
حدثنا سويد ابن نصر أخبرنا عبد الله ابن المبارك أخبرنا إسماعيل ابن عياش حدثني أبو سلمة الحمصى وحبيب بن صالح عن يحي بن جابر الطائ عن مقدام ابن معدي كرب قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ما ملأ آدمى وعاء شرا من بطن بحسب ابن آدم أكلات يقمن صلبه فإن كان لا محالة فثلث لطعامه وثلث لشرابه وثلث لنفسه


Artinya : Telah menceritakan kepada kami Suwaid ibnu Nasr telah mengkhabarkan kepada kami Abdullah ibn Mubarak telah mengkhabarkan kepada kami Isma’il ibn ‘Iyas telah menceritakan kepadaku Abu Salamah al-Himsi dan Habib Ibn Shalih dari Yahya bin Jabir at-Tha I dari Abi karimah al-Miqdad bin Ma'di kariba r.a ia berkata “ Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda“ Tidaklah lebih berbahaya seseorang itu memenuhi suatu bejana melebihi bahayanya memenuhi perut, cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya dan seandainya ia tidak mampu berbuat seperti itu maka sepertiga makan, sepertiga minum, sepertiga untuk nafasnya. (HR Tirmidzi)


b. Tirmidzi kitab Az-Zuhd ‘an Rasulillah bab Ma ja a fi karahiyatu katsratu al-akli hadits no 2302 CD

حدثنا الحسن اين عرفة حدثنا إسماعيل اين عياش ونحوه قال المقدام ابن معدي كرب عن النبي صلى الله عليه وسلم ولم يذكر فيه سمعت النبي صلى الله عليه وسلم, قال أبو عيسا هذا حد يث حسن صحيح.

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Hasan ibn 'Arafah Telah menceritakan kepada kami Isma'il ibn 'Iyash dan seterusnya berkata Miqdam ibn Ma'di kariba dari Nabi saw tanpa menyebutkan saya telah mendengar Nabi saw, Tirmidzi mengatakan hadits ini adalah hasan sahih.

d. Ibnu Majah Kitab al-At’imah bab al-Iqtishad fi al-Akli wa Karahatu asy-Syab’i hadits No 3340 CD
حدثنا هشام ابن عبد المالك الحمصى حدثنا محمد ابن حرب حدثنى أمى عن أمها أنها سمعت المقدام ابن معد كرب يقوا يمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول يقول ما ملأ آدمى وعاء شرا من بطن بحسب ابن آدم أكلات يقمن صلبه فإن غلبت الأدمى نفسه فثلث لطعام وثلث لشراب وثلث لنفس.

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Hisyam ibn Abdul al-Malik al-Himsiy telah menceritakan kepada kami Muhammad ibn Harbin telah menceritakan kepada saya ibuku dari ibunya bahwasanya ia mendengar al-Miqdam bin Ma’di Karbin r.a ia berkata “ Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda“ Tidaklah lebih berbahaya seseorang itu memenuhi suatu bejana melebihi bahayanya memenuhi perut, cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya, jika seseorang ingin lebih dari itu, maka sepertiga makan, sepertiga minum, sepertiga untuk nafasnya. HR (Ibnu Majah)

B. ‘Itibar Sanad hadits
Ditilik dari keragaman sanad di atas terlihat bahwa pada thabaqah pertama, pada tingkat sahabat terdapat satu orang periwayat yaitu Miqdam ibn Ma’di Kariba. Dengan demikian maka hadits tersebut termasuk hadits Ahad karena pada tingkat sahabat tidak miliki seorang syahid . Dari beberapa jalur sanad hadits tersebut di atas terdapat pertemuan jalur sanad di antara mukharrij hadits, at-Tirmidzi dengan Ahmad ibn Hanbal yaitu pada Habib ibn Shalih dan Sulaiman ibn Sulaim yang sama-sama memiliki seorang guru Yahya ibn Jabir. Maka dalam jalur sanad at-Tirmidzi Habib ibn Shalih sebagai muttabi’ dari Sulaiman ibn Sulaim dan Sulaiman ibn Sulaim sebagai muttabi’ dari Habib ibn Shalih. Sedangkan jalur sanad hadits dari ibn Majah setelah dilakukan penelusuran dinilai munqathi' (terputus) karena terdapat jalur sanad yang tidak dikenal yaitu Ummuha. Lebih jelasnya lihat skema sanad hadits tersebut pada lampiran 2.
Berdasarkan analisis sanad di atas hadits tentang bahaya makan berlebihan dan anjuran membagi perut dalam sepertiga makan, sepertiga minum dan sepertiga udara adalah sanadnya bersambung kecuali hadits dari jalur Ibn Majah.
C. Penilaian Sanad Hadits
Seperti yang telah diungkapkan oleh beberapa ahli sejarah bahwa penuturan sebuah berita hendaknya “dicurigai” terlebih dahulu siapa penyampainya dan atas logika apa informasi diberikan artinya sejauhmana keterlibatan suatu komponen lain yang hadir dan menyertai terbentuknya sejarah apakah masih terjalin dalam warna hubungan yang relasional atau saling mempengaruhi satu sama lain atau bahkan hanya berdasarkan pembacaan suatu data yang diinterpretasikan secara memikat oleh penutur. Inilah yang ditandaskan oleh para ulama hadits ketika mengkaji lebih jauh tentang hadits-hadits Nabi saw. Kemudian dalam kajian sanad disebut jarh (kritikan, celaan) dan ta’dil (pujian), hal ini tentunya terkait dengan ulasan muru’ah (kepribadian) periwayat. Kajian sanad sangat penting kaitannya dalam mempelajari hadits bahkan perhatian terhadap sanad hadis adalah sunnah muakkadah di antara beberapa sunnah dan lambang keagungan umat, karena itu umat Islam wajib berpedoman pada sanad dalam meriwayatkan hadis dan khabar sebagaimana perkataan ibn al-Mubarak.
الإسناد من الدين ولول الإسناد لقال من شاء
Artinya : Sanad adalah bagian dari agama dan seandainya tidak terdapat sanad tentu orangberkata sekehendak hatinya.

Ats-Tsauri berkata :
الإسناد سلاح المؤمن
Artinya : Sanad adalah pusaka orang Mukmin.
Nilai dan kegunaan sanad adalah untuk mengetahui keadaan para perawi hadis dan juga untuk mengetahui sanad yang muttasil dan yang munqathi'
Adapun urutan nama-nama periwayat dan sanad hadits tentang bahaya makan berlebihan dan anjuran membagi perut dalam sepertiga makan, sepertiga minum dan sepertga udara dari riwayat Ahmad sebagai berikut :




Berikut pemaparan tentang kepribadian periwayat hadits di atas :
1. Miqdam Ibn Ma’di Kariba, ia memiliki nama lengkap Miqdam ibn Ma’di Kariba ibn Amru ibn Yazid, termasuk pada thabaqah Sahabat, nasabnya al-kindi Kuniyah Abu Karimah, Tinggal dikota Syam, wafat Syam 87 H. Adapun di atara guru-gurunya : Khalid ibn yazid ibn kalib, Khalid ibn al-Walid al-Mughirah, Ubadah ibn Shamid ibn Qais. Murid-Muridnya :Bakir ibn Abdullah ibn Abi Maryam, Habib ibn Ubaid, Yahya ibn jabir ibn Hisan, al-Hasan ibn jabir Komentar para ulama hadits .Termasuk dari sahabat ‘Adil, Tsiqqah. Shighat Tahammu wal al-‘Ada yang digunakan adalah Qala, Sami’tu
2. Yahya ibn Jabir ia memiliki nama lengkap Yahya ibn Jabir ibn Hisan termasuk pada thabaqah lam taliqu as-Sahabah ia bernasab At-Thoi al-Himsi, kuniyah Abu Amru. Tinggal dikota Syam dan wafat pada tahun126 H. Adapun Guru-gurunya antara lain Abu Surah ibn Akhi Abi Ayub, Jabir ibn Naghir ibn Malik, Hakim ibn Mu’awiyah, Shalih ibn yahya, Abdur Rahman ibn Jabir an-Naghir, Auf ibn Malik ibn Abi Auf, Mu’awiyah ibn Hakim ibn Mu’awiyah, al-Miqdam ibn Ma’di kariba ibn ‘Amru ibn Yazid, an-Nawas ibn sam’an, Dhamrah ibn Tsa’labah. Murid-muridnya Bakir ibn Abdullah ibn Abi Maryam, Habib ibn Shalih, Sulaiman ibn Sulaim, Shawan ibn Amru ibn Harun, Abdur Rahman ibn yazid ibn Jabir, Muhammad ibn al-Walid ibn Amir. Komentar para ulama kritikus hadits mengenai dirinya Yahya bin Mu’in tsiqqah, Abu Hatim ar-Razi Shalih al-Hadits, Al-‘Ajali Tsiqqah, Ibn Hibban wa tsaqahu, Adz-Dzahabi Suduq, ratibah tsiqqah wa arsala katsiiran Shighat tahammul wa al-ada yang digunakan ‘an.
3. Sulaiman ibn Sulaim al-Kinani termasuk pada tabaqat kibar al-itba’ memiliki nasab al-Kinani al-kalibi kuniyah Abu Salamah. Ia tinggal di kota Syam dan wafat pada tahun 147 H. Adapun di antara guru-gurunya Shalih ibn Yahya ibn al-miqdam, Amru ibn Syu’aib ibn Muhammad ibn Abdillah ibn Amru, Muhammad ibn Muslim ibn Ubaidillah ibn Abdullah ibn Syihab, Yahya Ibn Jabir ibn Hisan, Wahb ibn Amru. Orang-orang yang belajar dengannya antara lain Isma’il ibn ‘iyasy, baqiyyah ibn al-Walid ibn Sya’id, Abdul Qudus Ibn Hijjaj, Farj ibn fadhalah ibn Nu’man, Muhammad ibn Harbin yahya ibn Hamzah ibn Waqid. Komentar para ulama kritikus hadits tentang dirinya Yahya ibn Mu’ayyan tsiqqah, Abu Hatim ar-Razi Ya’qub ibn Sufyan tsiqqah, hasan al-hadits, Abu Dawud as-Sijatani tsiqqah an-Nasa’I himsyi laisa bihi ba’s, al-Ajali Tsiqqah, Shighat Tahammu wa al-Ada yang digunakan haddatsana.
4. Abu al-Mughirah nama lengkap Abdul Qudus ibn hijjaj thabaqah sughra min al-Itba’ ia memilki nasab al-khaulani kuniyah Abu al-Mughirah tempat tinggal Syam dan wafat di Halwan pada tahun 212 H. Adapun guru-gurunya ‘Irthathu ibn al-Mundzir ibn al-Aswadi, Isma’il ibn ‘Iyasy ibn Sulaim, Basyar ibn Abdullah ibn Yasar, Bakir ibn Abdullahibn Maryam, Haris ibn Utsman ibn Jbir, as-Sury ibn yan’am, Sa’id ibn Abdul Aziz ibn Abi Yahya, Sulaiman ibn Sulaim, Sofwan ibn Sulaim. Murid-muridnya Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal ibn hilal ibn Asad, Ishaq ibn Ibrahim ibn Mukhallid, Ishaq ibn Mansur, ibn Bahram, Imran ibn Bahra ibn Rasyid, Amru ibn utsman ibn Sa’id, Isa ibn Abi ‘isa hilali, Muhammad ibn Masfa ibn bahlul Muhammad ibn Yahya ibn Abdullah ibn Khalid ibn faris, Yahya ibn Usman ibn Sa’id. Adapun komentar para ulamna kritikus hadis mengenai dirinya Abu Hatim kana suduqan, al-Ajali tsiqqah, ad-Daruqutni tsiqqah, an-Nasa’I laisa bihi ba’s, Ibn Hibban tsiqqah. Shighat tahammu wa al-ada yang digunakan haddatsna
5. Ahmad ibn Hanbal nama lengkap Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal al-Syaibani, lahir Baghdad rabi’ul Awwal 164H. Adapun guru-gurunya antaralain :Basyar Ibn al-Mufadh-dhal, Isma'il Ibn 'Aliyah, Sufyan Ibn 'Uyainah, Jarir Ibn Abdul Hamid, dan masih banyak lagi. Di antara murid-muridnya : Abdur Razaq, Abu al-Walid, Qutaibah. Komentar ulama hadis antara lain Imam Asy-Syafi’i mengatakan “ketika saya meninggalkan Baghdad di sana tidak ada orang yang lebih pandai di bidang fiqih lebih wara’,lebih zuhud, dan lebih ‘Alim dari Ahmad ibn Hanbal. Ishaq ibn Rahawih mengatakan Ahmad adalah hujjah antara hamba Allah dengan Allah di muka bumi. Yahya ibn Ma’in mengatakan hafiz ‘alim, wara’, zahid berakal sempurna, Ali al-Madini mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang berusaha mengembangkan ilmu dalam Islam sebagaimana yang dilakukan Ahmad ibn Hanbal, Abu Zar’ah memberi gelar dengan Amir al-mukminin fi al-hadis.
Berdasarkan semua penjelasan di atas tampak bahwa seluruh periwayat dalam sanad hadis Ahmad ini adalah tsiqqah (terpercaya) sebab tidak ada satupun dari para kritikus hadis yang menganggap cacat (men-tajrih-nya). Sedangkan ditinjau dari segi bersambung tidaknya sanad hadis tersebut jelas bersambung sanadnya dari awal sampai akhir, bisa dibuktikan melalui bertemunya setiap murid dengan gurunya. Berdasarkan pertimbangan dan logika di atas dari segi sanad hadis ini dapat dikategorikan sebagai hadis muttasil, dengan kategori Ahad oleh karenanya ditilik dari kualitas sanadnya termasuk hadis sahih , tidak lain seluruh perawinya muttasil dan Tsiqqah dari awal sampai akhir. Sehingga studi ini layak dilanjutkan untuk kritik matan dan analisa pemaknaannya secara luas.
D. Analisis Matan Hadits
Penelitian matan adalah kajian dan pengujian atas keabsahan suatu matan hadis lebih lanjut mempelajari sedalam-dalamnya tentang keadaan matan hadis agar diketahui apakah terdapat lafadz yang janggal syadz dan ‘illat atau memiliki makna yang bertentangan dengan teks Al-Qur’an, jika terdapat tanda-tanda kepalsuan atau maknanya yang bertentangan dengan Al-Qur’an maka langkah selanjutnya adalah melakukan penelusuran melalui kitab al-maudhu’at (kitab-kitab tentang hadis maudhu’ atau palsu) . Periwayatan hadits yang sahih sanadnya belum tentu berarti sahih matannya karena itu sahih matan merupakan syarat tersendiri bagi kesahihan suatu hadis atau yang disebut ma’rifah ‘ilal al-hadis yang merupakan puncak dan detailnya ‘Ulum al-Hadis yang tidak mampu berolah nalar kecuali para pakar ilmu-ilmu hadis yaitu peneliti cerdas yang hafal sekaligus faham seperti al-Madini, Ahmad ibn Hanbal, Bukhari, Muslim dan lain-lainnya.
Ketika peneliti mencermati formasi bahasa hadis dan kaedah-kaedah bahasa Arab tidak menemukan satu kejanggalan apapun, dengan kata lain hadis mengenai bahaya makan berlebihan dan anjuran untuk membagi lambung dalam sepertiga makanan sepertiga minum dan sepertiga untuk nafsnya, tersusun rapi yaitu dimulai dengan lafadz “مَا” kemudian lafadz setelahnya adalah fi’il berarti ma nafi (meniadakan). Selain hadits tersebut sahih secara sanad dari segi akal sehat maknanya menunjukkan adanya bahaya makan berlebihan dan anjuran membagi lambung dalam tiga bagian makan minum dan udara dan ini secara medis tidak bertentangan, makan berlebihan dapat berakibat buruk bagi kesehatan. Berbagai jenis panyakit timbul karena makan berlebihan di antaranya hipertensi atau tekanan darah tingggi, Jantung koroner , hati, kantung empedu .
Allah swt menjelaskan dalam hal makan dalam surat Al-Baqarah : 172
              
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. (QS: Al-Baqarah 172)

Dalam ayat lain Allah swt berfirman tentang perintah untuk makan, minum serta melarang untuk berlebihan .

                 
Artinya : Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS: Al-‘Araf ; 31)

Dilihat dari isi atau matan hadits tentang bahaya makan berlebihan dan anjuran membagi lambung dalam tiga bagian makan minum dan udara terdapat variasi. Tetapi variasi hadits tersebut tidak ada pertentangan satu sama lain secara makna hanya pada variasi matannya terdapat perbedaan. Secara keseluruhan tidak ada perbedaan matan hadits kecuali pada riwayat Ibnu Majah dengan lafadz (لُقَيْمَاتٌ) sementara matan hadits yang lain (أُكُلَاتٌ) keduanya memiliki arti yang sama yaitu (beberapa suap). Sedangkan فإن كان لا محالة)) ini berarti jika tidak boleh tidak, pada riwayat ibn Majah dengan lafadz ( (فإن غلبت الأدمى نفسهyang berarti jika anak Adam tidak dapat menahan hawa nafsunya untuk terus makan. Perbedaan lafadz hadits tersebut secara makna tidak bertentangan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa hadis mengenai bahaya makan berlebihan dan anjuran untuk membagi lambung dalam tiga bagian makan minum dan udara diriwayatkan secara makna atau ar-riwayah bi al-ma’na (periwayatan secara makna diperbolehkan selama tidak merubah artinya serta tidak bertentangan dengan maksud dan kandungan hadis. Dengan berbagai variasi matan akan tetapi kesemuanya tidak membawa perubahan makna dan pemaknaan yang signifikan.








BAB IV.

PEMAHAMAN HADITS ETIKA MAKAN

A. Pendekatan dalam Memahami Hadits

Persoalan pemahaman hadis tidak dapat dipisahkan dari penelitian matan. Penelitian matan dilakukan dengan mengadakan analisa dengan beberapa pendekatan memang diperlukan agar studi hadis tidak salah arah atau sasaran. Pendekatan yang dimaksud adalah suatu acuan yang dapat dijadikan pegangan untuk melihat, meneliti dan menangkap sesuatu yang berkaitan dengan hadis. M.Zuhri berpendapat untuk memahami hadis diperlukan seperangkat instrumen seperti pengetahuan bahasa informasi tentang situasi yang berkaitan dengan munculnya sebuah hadis setting budaya dan lain-lain
Yusuf Qardhawi berpendapat bahwa untuk dapat memahami hadis dengan pemahaman yang benar, jauh dari penyimpangan pemalsuan dan penafsiran yang buruk, maka haruslah dalam memahami hadis sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an. Yaitu dalam kerangka bimbingan Ilahi yang pasti benarnya dan tidak diragukan lagi kebenarannya. Al-Qur’an adalah ruh dan eksitensi Islam dan merupakan asas bangunannya sedangkan hadis adalah penjelasan rinci tentang konstitusi tersebut oleh sebab itu tidaklah mungkin sesuatu yang merupakan pemberi penjelasan bertentangan dengan apa yang hendak dijelaskan.
Dalam rangka memahami hadis tentang etika makan ini peneliti menggunakan metode yang ditawarkan oleh Yusuf Qardhawi sebagai berikut :
1. Memahami Hadis dengan Petunjuk al-Qur’an.
Al-Qur’an yang berarti bacaan yang sempurna boleh dikatakan merupakan miniatur “ayatullah” himpunan firman Allah swt dan garis besar terjemahan alam raya yang bersifat mukjizati. Ia bukanlah sekedar dokumen historis atau pedoman hidup dan tuntunan spiritual bagi sekalian manusia tetapi juga sebagai mitra dialog dan tempat mengadukan dan menghadapkan macam-macam urusan kehidupan yang kongkret. Sehingga wajib diajak untuk berdiskusi dan ditelaah isinya dinalar sekaligus diamalkan. Kitab suci yang kebal terhadap selinapan kesalahan ini diturunkan kepada Nabi saw lalu disampaikan kepada umatnya secara mutawatir dan ditulis dalam sebuah mushaf, mendengar dan membacanya saja sudah terhitung Ibadah .
a) Perintah makan dari makanan yang malal dan thayyib
Salah satu di antara perintah-perintah Allah swt dalam al-Qur’an adalah perintah untuk makan dari makanan yang halal dan thayyib (baik), pada prinsipnya Allah swt menghalalkan makanan untuk dimakan adalah makanan yang baik dan dapat memelihara diri, Allah swt berfirman dalam surat al-Maidah ayat 4 sebagai berikut .
  •    •                       •   •    
Artinya : Mereka menanyakan kepadamu: "Apakah yang dihalalkan bagi mereka?". Katakanlah: "Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya. (QS al-Maidah : 4)

Makanan yang halal adalah makanan yang tidak haram sedang makanan haram ada dua macam, haram karena dzatnya seperti daging babi, bangkai dan darah, haram karena sesuatu bukan dari dzatnya seperti makanan yang tidak diizinkan oleh pemiliknya untuk dimakan atau digunakan. Maka makanan yang halal ialah yang tidak termasuk dua macam tersebut .
Makanan yang thayyib (baik) Ibnu Katsir memaknai dengan makanan yang menyehatkan dan tidak menimbulkan bahaya bagi badan dan akal . Allah swt memerintahkan di dunia ini untuk makan dari makanan yang halal dan baik, karena tidak semua yang ada dibumi boleh dimakan atau digunakan. Allah swt menciptakan ular berbisa bukan untuk dimakan tetapi antara lain untuk digunakan bisanya sebagai obat. Dengan demikian tidak semua yang ada di muka bumi ini menjadi makanan yang halal .
Perintah Allah swt untuk makan terdapat di beberapa tempat dalam al-Qur'an dan masing-masing memiliki obyek tertentu (beberapa kelompok manusia) di antaranya yaitu perintah makan yang ditujukan kepada Nabi Adam as ketika tinggal disurga. firman Allah swt
     •             
Artinya : Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.(al-Baqarah; 35)

Allah swt memerintahkan kepada Nabi Adam as untuk tinggal dengan tenang di dalam surga berdua bersama isterinya saja tanpa disebutkan anak dan cucu hal ini menunjukkan bahwa nabi Adam tidak akan beranak cucu disurga dan perintah agar makan sepuasnya sebagian dari makanan yang ada di surga yang banyak lagi baik di mana dan kapan saja yang dia sukai tanpa ada pembatasan kecuali untuk satu hal yaitu janganlah kamu berdua mendekati apalagi memakan buah pohon ini sehingga menyebabkan kamu berdua termasuk orang-orang zhalim. Muhammad Abdul Mun'im dalam tafsirnya al-Farid menafsirkan ayat ini dengan "Hai Adam tinggalah kamu dan isterimu di surga ini dan bersenang-senanglah dengan keni'matan yang ada didalamnya makanlah dari buah-buahannya dengan senang, sedangkan lafadz haitsu syi'tuma ditafsirkan dengan makanlah ditempat mana saja yang kamu sukai Dalam tafsir Jalalain lafadz roghodan haitsu syi'tuma ditafsirkan dengan makanlah di antara makanan yang ada di surga yang banyak dan tidak dilarang di mana saja kamu sukai tetapi janganlah kamu mendekati pohon ini. Jika di perhatikan dalam ayat tersebut bahwa perintah makan kepada Nabi Adam ketika di surga tanpa menyebut makanan halal dan thayyib karena secara umum makanan yang ada disurga boleh dimakan termasuk ketika di dunia diharamkan maka di surga diperbolehkan seperti khamar (minuman yang memabukkan), ketika di dunia khamar termasuk minuman yang dilarang untuk meminumnya tetapi di Akhirat Allah swt menyediakan bagi penduduk surga sungai-sungai dari susu yang tidak berubah rasanya begitu juga sungai dari khamar yang lezat rasanya, sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an :
• •        •       •                •         •      
Artinya : Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada beubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak beubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?( QS Muhammad :15)

   • 

Artinya : Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya) (,QS al-Mutaffifin:25)

Larangan yang ditujukan Nabi Adam untuk mendekati dan memakan buah dari satu pohon yang ada surga. maka pohon yang dimaksud dalam ayat tersebut tidak dapat dipastikan sebab al-Qur’an dan Hadis tidak menerangkannya, ada yang menamakan pohon tersebut dengan “khuldi” sebagaimana tersebut dalam surat Thaha ayat 120, tetapi itu adalah nama yang diberikan setan.
             
Artinya : Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?"(QS Thaha :120).

Kedua Perintah Allah swt yang ditujukan kepada Bani Israil dalam, surat al-Baqarah ayat 57 dan QS al-A’raf :160)
                    




Artinya :Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa". Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri (QS al-Baqarah :57).

                          • •                      
Artinya : Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu!." Maka memancarlah dari padanya dua belas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman): "Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezkikan kepadamu." Mereka tidak menganiaya Kami, tapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri.(QS al-A’raf :160)

Melalui ayat ini Allah swt mengingatkan kepada Bani Israil bahwa Allah swt memerintahkan kepada awan untuk menaungi mereka, peristiwa ini terjadi ketika mereka tersesat di padang pasir yang terik selama 40 tahun, yaitu di padang pasir antara Syam yakni (palestina, Suria, Lebanon) dan Mesir. Peristiwa itu menimpa Bani Israil ketika mereka enggan memenuhi perintah Allah untuk memerangi sekelompok orang-orang durhaka di Syam. kemudian kami turunkan kepada mereka al-manna dan salwa sehingga kalian tidak perlu bersusah payah mencari makanan di daerah kering dan tandus itu. Selanjutnya Allah memerintahkan kepada Bani Israil makan sebagian makanan yang baik-baik yang telah Allah berikan kepada mereka, perintah Allah agar makan sebagian bukan hanya berarti karena Allah telah melimpahkan kepada bani Israil makanan yang banyak tetapi juga perintah tersebut adalah untuk menjaga kesehatan mereka dengan menghindari makan berlebihan . Ketiga Perintah makan dari makanan yang halal dan thayyib ditujukan kepada seluruh manusia tanpa menyebutkan golongan tertentu sebagaimana terdapat dalam surat al-Baqarah 168.
 ••                
Artinya : Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu (al-Baqarah:168.)

Dalam ayat ini terkandung ajakan yang ditujukan bukan hanya kepada orang-orang yang beriman tetapi juga untuk seluruh manusia, hal ini menunjukkan bahwa bumi disiapkan Allah untuk seluruh manusia mukmin maupun kafir. Setiap upaya dari siapapun untuk memonopoli hasil-hasilnya baik ia kelompok kecil, besar, keluarga, suku, bangsa, atau kawasan dengan merugikan yang lain, maka itu bertentangan dengan ketentuan Allah karena itu semua manusia diajak untuk makan makanan yang halal dan thayyib yang ada di muka bumi.
Keempat perintah Allah swt yang ditujukan kepada orang-orang yang beriman sebagaimana terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 172
              

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.(al-Baqarah:172)

Dalam ayat ini Allah swt secara tegas memerintahkan orang-orang yang beriman agar makan dari makanan yang baik dan hendaknya bersyukur kepada Allah swt. Tujuan dari makan itu sendiri adalah untuk menguatkan badan dan kemudian dengan badan yang kuat dan sehat maka fikiran pun terbuka dan rasa syukur kepada Allah swt semakin bertambah mendalam dengan melakukan ketaatan berupa amal ibadah kepada Allah swt. Mengkonsumsi makanan yang halal merupakan sebab diterimanya suatu amal ibadah begitu juga sebaliknya makan dari makanan yang haram dapat mencegah diterimanya doa dan amal ibadah seseorang. HAMKA lebih lanjut menyatakan dalam tafsir al-Azhar bahwa kalau ada seruan kepada seluruh manusia agar makan makanan yang halal dan baik (QS; Al-Baqarah ayat 168), niscaya kepada kaum yang beriman perintah ini lebih ditekankan lagi, Di samping itu makanan yang dikonsumsi akan berpengaruh pada kehalusan dan kekasaran budi pekerti seseorang.
b) Larangan makan dari makanan yang haram
Allah swt melarang orang-orang yang beriman makan dari makanan yang tidak halal baik dzatnya maupun cara memperolehnya. Makanan yang haram karena dzatnya seperti daging babi, darah, hewan yang disembelih atas nama selain Allah swt, sebagaimana terdapat dalam surat al-Maidah ayat 3.
       •       •                                                •    
Artinya: Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS Al-Maidah: 3)

Dalam ayat Allah menjelaskan beberapa larangan-Nya dari makanan yang biasa dimakan di antaranya :
a. Bangkai yaitu binatang yang mati sendiri tanpa disembelih maupun karena perburuan.
b. Daging Babi, baik dari yang jinak maupun yang liar kata daging pada ayat ini termasuk lemak (gajih) dan sebagainya.
c. Binatang yang disembelih dengan menyebut selain Allah.
d. Binatang yang mati karena dicekik.
e. Binatang yang mati karena dipukul dengan benda yang berat dan tidak tajam.
f. Al-mutaraddiyat (binatang yang mati karena jatuh dari tempat yang tinggi)
g. An-Nathihatu (binatang yang mati karena ditanduk oleh hewan lainnya)
h. Binatang yang mati karena diterkam oleh binatang buas dan dimakan sebagiannya hingga mati, tetapi jika sempat menyembelihnya karena masih hidup, dalam hal ini termasuk bintang yang tercekik, terlempar, terpukul, jatuh dan sebagainya dan sempat menyembelihnya maka yang seperti itu hukumnya halal.
Larangan selanjutnya untuk makan dari makanan yang haram bukan pada dzatnya tetapi karena cara memperolehnya yaitu dengan cara tidak benar (bathil) seperti makan dari hasil riba, memakan harta anak yatim dengan cara zhalim melebihi sewajarnya, makan dari hasil mencuri dan sebagainya Allah swt berfirman,
             ••    

Artinya : Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui
(QS:al-Baqarah:188).

Ayat tersebut mengandung larangan untuk memakan atau memperoleh harta dengan cara yang batil. Quraish Shihab menafsirkan ayat ini dengan janganlah kamu memakan harta sebagian kamu, antara kamu yakni janganlah memperoleh dan menggunakan harta degan cara yang batil. Kata bainakum yang berarti antara, mengisyaratkan bahwa interaksi dalam perolehan harta terjadi antara dua pihak harta seakan-akan berada di tengah dan kedua pihak berada pada posisi ujung yang berhadapan, keuntungan dan kerugian dari interaksi itu tidak boleh ditarik terlalu jauh oleh masing-masing sehingga salah satu pihak merugi sedang oihak yang lain mendapat keuntungan, sehingga bila demikian harta tidak lagi berada ditengah dan kedua pihak tida lagi seimbang. Perolehan harta yang tidak seimbang adalah batil, dan yang batil adalah segala sesuatu yang tidak hak tidak dibenarkan oleh hukum serta tidak sejalan dengan tuntunan ilahi walaupun dilakukan atas dasar kerelaan yang berinteraksi. Salah satu yang terlarang dan sering dilakukan dalam masyarakat adalah suap-menyuap. Dalam kasus ini biasanya penyuap memberi sesuatu kepada yang berwenang memutuskan sesuatu tetapi secara sembunyi-sembunyi dengan tujuan mengambil sesuatu secara tidak sah. Selanjutnya larangan Allah untuk makan dari hasil riba sebagai berikut ;
         •    

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.(QS Ali’Imran : 130).

Dalam Tafsir al-Misbah Quraish Shihab mengutip dalam tafsir al-Kasyaf dikemukakan bahwa Imam Abu Hanifah apabila membaca ayat 130 dari surat Ali-'Imran ini beliau mengatakan "inilah ayat paling menakutkan dalam al-Qur'an karena Allah mengancam orang-orang yang beriman terjerumus ke dalam neraka yang di sediakan adalah untuk orang kafir. Menurut Quraish Shihab riba adalah
Kejahatan ekonomi yang terbesar ia adalah penindasan terhadap yang butuh penindasan dalam bidang ekonomi dapat lebih besar daripada penindasan dalam bidang fisik, ia adalah pembunuhan sisi kemanusiaan manusia dan kehormatannya secara berkesinambungan, tidak heran jika sekian banyak ulama antara lain Syeikh Muhammad Abduh ia menilai kafir orang-orang yang melakukan praktek riba walaupun mengakui keharamannya dan walau ia mengucap kalimat syahadat dan secara formal melakukan shalat adalah serupa dengan orang kafir yang terancam kekal di neraka.

                      •                       •     

Artinya : Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya
(QS: al-Baqarah : 275.

Gambaran keadaan orang-orang yang memakan riba, nanti di akhirat mereka tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila bahwa orang yang memakan harta riba tidak tenteram jiwanya seperti orang kemasukan syaitan. Selanjutnya Allah melarang untuk memakan harta anak yatim dengan cara dzalim melebihi sewajarnya Allah swt berfirman,
                   

Artinya : Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang - besar (QS An Nisa’:2).

  •               •                         

Artinya : Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu). (QS An Nisa’:6)

Ayat ini memerintahkan bagi para wali anak yatim untuk meguji anak yatim dengan memperhatikan keadaan mereka dalam hal penggunaan harta sebelum menyerahkan harta mereka, Di samping itu juga terdapat larangan memakan harta anak yatim melebihi batas kepatutan. Boleh jadi ada diantara para wali yang tamak maka ayat ini melanjutkan tuntunannya dengan menegaskan bahwa janganlah kamu para wali, memakan yakni memanfaatkan untuk kepentingan kamu harta anak yatim dengan kamu yang mengelolanya sehingga memanfaatkannya lebih dari batas kepatutan dan jangan juga kamu membelanjakan harta itu dengan tergesa-gesa sebelum mereka dewasa karena khawatir bila mereka dewasa kamu tidak dapat mengelak untuk tidak menyerahkannya. Maka barang siapa diantara para pemelihara anak yatim yang mampu maka hendaknya ia menahan diri yakni tidak menggunakan harta anak yatim itu dan mencukupkan dengan anugerah Allah yang diperolehnya dan barang siapa yang miskin maka boleh bagi dia makan dan memanfaatkan harta itu bahkan mengambil upah atau imbalan menurut sewajarnya.
•       
      

Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). (QS An Nisa’:10)

Maka pada ayat ini merupakan ancaman yang ditujukan kepada mereka yang berlaku aniaya terhadap harta anak yatim. Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim, ayat ini bisa juga bermakna menggunakan atau memanfaatkan harta anak yatim atau kaum lemah lainnya secara zhalim, yakni bukan pada tempatnya dan tidak sesuai dengan petunjuk agama, sebenarnya mereka itu sedang atau akan menelan api dalam perutnya yakni sepenuh perutnya dan mereka pada hari kemudian nanti akan masuk keadalam api yang menyala-nyala di neraka.
Dalam surat al-Maidah :38 terdapat larangan makan memperoleh harta dengan cara mencuri, yaitu mengambil milik orang lain tanpa izin atau tidak sah dan biasanya dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.
              
Artinya : Laki-laki yang mencuridan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai)pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah Dan Allah maha perkasa lagi maha bijaksana.
(QS al-Maidah :38)

Maka dalam ayat ini Allah swt menetapkan hukum potong tangan terhadap pencuri laki-laki maupun wanita. Hukum tersebut memang berlaku di masa jahiliyah dan kemudian ditetapkan oleh Islam tetapi dengan ketentuan dan syarat-syarat tertentu .
c) Larangan makan dengan berlebihan

Allah swt menggambarkan orang-orang kafir dalam hal makan adalah seperti makannya binatang ternak yang cenderung mengisi perutnya dengan makanan mereka mengikuti syahwat hawa nafsu tanpa kenadali agama dan akal nya Allah swt berfirman :
•       •             •   
Artinya :Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengejakan amal shaleh ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-singai. Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (didunia) dan mereka makan seperti makannya binatang ternak dan neraka adalah tempat tinggal mereka.”(QS : Muhammad :12)

Ayat ini menguraikan perbedaan yang menonjol antara orang yang beriman dengan orang kafir, yaitu orang yang beriman mereka beriman beramal shalih dan orang kafir pandangan dan aktifitas mereka hanya tertuju kepada hal-hal yang bersifat material. Orang yang beriman berbakti dan melakukan amal-amal shalih untuk kepentingan diri,keluraga, dan kemanusiaan dengan mengasah dan mengasuh kalbu dan menghiasinya dengan Iman serta memfungsikan dengan baik anggota tubuh mereka melalui shalih, sedang orang kafir hanya memperhatikan sebagian dari potensi mereka yakni jasmani khususnya pemenuhan syahwat perut dan kemaluan. Di samping itu ayat di atas juga menyebutkan dua sifat orang kafir. Pertama, suka hidup bersenang-senang, karena bagi meraka tidak ada yang menghalangi untuk mencapai atau melakukan sesuatu. Bagi mereka, semuanya boleh dikerjakan Di samping mereka tidak punya beban kewajiban yang mesti ditunaikan. Kedua, mereka makan seperti makannya binatang ternak. Bagaimana makannya binatang ternak, sehingga Allah menyamakan makannya orang kafir dengan makannya binatang ternak. Bila diperhatikan ada hal yang buruk dari cara makannya binatang ternak, yaitu makannya selalu berlebihan. Misalnya, sapi atau kerbau bila makan pasti perutnya diisi penuh sampai “buncit”. Bahkan sampai tidak ada lagi ruang untuk yang lain; air dan udara. Sehingga dalam ayat yang lain Allah swt berfirman :

                 

Artinya : Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS al-A’raf :31).

Dalam Ayat ini Allah swt memerintahkan kepada seluruh manusia (keturunan Adam) agar makan minum dengan tidak berlebihan. Maksud dari ayat ini adalah janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan . Qurais Shihab menafsirkan ayat ini, dengan menyatakan bahwa perintah untuk makan dan minum serta larangan untuk berlebihan, dalam keduanya merupakan salah satu prinsip yang diletakkan agama Islam menyangkut kesehatan hal ini diakui oleh para ilmuwan terlepas apapun pandangan hidup atau agama mereka. Perintah makan dan minum dengan tidak berlebihan yakni tidak melampaui batas, merupakan tuntunan yang harus disesuaikan dengan kondisi setiap orang, ini karena kadar tertentu yang dinilai cukup untuk seseorang boleh jadi telah dinilai berlebihan atau melampaui batas buat orang lain. Maka atas dasar itulah bahwa penggalan ayat tersebut mengajarkan sikap proposional dalam hal makan dan minum.
3.Pemahaman ulama tentang Hadits etika makan.

Sesuai dengan hadits yang dimaksud peneliti menukil penjelasan dari kitab syarah hadits untuk dijadikan acuan pembahasan mengenai hadits etika makan yaitu ;
حدثنا أبو المغيرة قال حدثنا سليمان ابن سليم الكنانى قال حدثنا يحيى ابن جابر الطائ قال سمعت المقدام بن معدى كرب الكندى قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ما ملأ آدمى وعاء شرا من بطن بحسب ابن آدم أكلات يقمن صلبه فإن كان لا محالة فثلث طعام وثلث شراب وثلث لنفسه..
Artinya : Telah menceritakan kepada kami Abu al-Mughirah ia berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibn Salim al-Kinani berkata telah menceritakan kepada kami Yahya ibn Jabir at-Tha i ia berkata saya telah mendengar al-Miqdad bin kariba r.a ia berkata “ Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda“ Tidaklah lebih berbahaya seseorang itu memenuhi suatu bejana melebihi bahayanya memenuhi perut, cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya dan seandainya ia tidak mampu berbuat seperti itu maka sepertiga makan, sepertiga minum, sepertiga untuk nafasnya. (HR Ahmad)

Dalam memahami hadits di atas ulama hadits mendasarkan kajiannya pada penelitian sanad dan matan hadits kemudian isi petunjuk hadits diulas dengan telaah secara struktural misalnya (ما ملأ آدمى وعاء شرا من بطن) Pada lafadz pertama hadits ini menggunakan (مَا) nafiyah yang berarti (tidak) yang masuk pada fi’il (kata kerja) dan isim (kata benda) sebagaimana terdapat dalam contoh kalimat Maa dzhabtu ila al-Madrasah (saya tidak pergi ke sekolah) ma hadza basyaran (ini bukanlah manusia) (مَلَأَ) ini berarti memenuhi atau mengisi berasal dari kata ( ملآ – يملآ) wadha’a fiihi mina al-ma’ qidrun maa ya’khudzuhu yaitu (meletakkan sesuatu dari air kedalam bejana) . (آدَمِيٌّ) al-insan nasabahu ila Adam yaitu manusia yang disandarkan pada Nabi Adam as bisa juga berarti (al-Latif, Dzu akhlaaqin) yaitu yang lembut dan memiliki akhlak atau budi pekerti .(وِعَاءً) ini adalah jama’ dari kata (a’wiyatu) yang berarti bejana sebagaimana dalam contoh kalimat maa yu’a fiihi asy-Syai’ (apa yang didalamnya dituangkan sesuatu). Hadits tersebut bermakna amat buruk seseorang yang menjadikan perutnya seperti bejana atau tempat untuk menampung segala sesuatu yang biasa digunakan untuk tempat menampung peralatan tumah tangga, sedangkan perut diciptakan adalah untuk menyangga tulang punggung dengan makan seperlunya, maka memenuhi perut melebihi kadarnya dapat membahayakan agama seseorang maupun tubuh, hal ini sehingga dikatakan amat buruk perbuatan tersebut. Berbagai penyakit juga banyak disebabkan karena pola makan yang tidak teratur (berlebihan), seseorang yang makan berlebihan dapat menghalangi seseorang dalam beribadah dan cenderung melakukan ma'siat dan menyia-nyiakan waktu.
Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya kata (حَسْبُ) al-Kaafiyatu yang berarti cukup sebagaimana dalam contoh kalimat “Hasbuka dirhamun” (Cukup bagimu satu dirham) . Kemudian kata (أُكُلَاتٌ) ini adalah jama’ dari kata al-uklatu atau al-Luqmatu yang berarti al-aklu marrot (makan sekali) maka bisa juga berarti beberapa suap makanan . يُقِمْنَ berasal dari kata aqaama yuqiimu yang berarti mendirikan atau menegakkan . (صُلْبَهُ) jama’ dari kata Uslūbun berati ‘adzmu ad-zhahri (Tulang Punggung) (مَحَالَةَ لا) laa budda yang berarti tidak boleh tidak, dalam kalimat laa mahaalata min al-Amri . (وَثُلُثٌ) berarti sepertiga, contoh kalimat (akhadza tsulutsu maalihim) yang artinya mengambil sepertiga dari hartanya. ( لِطَعَامِهِ) jama’nya adalah (ath’imatu) berarti makanan, atau (maa yukkal) apa yang dimakan . (شَرَابِهِ) jama’nya adalah Asyribatu berarti minuman (al-masyrub) berarti yang diminum. (لِنَفَسِهِ) jama’nya (anfasun) an-nasamah berarti nafas. Cukuplah bagi anak adam beberapa suap sekedar untuk mempertahankan hidup dan menguatkan dalam beribadah kepada Allah maka jika harus lebih dari itu maka jangan melebihi batas yang disebutkan yaitu sepertiga untuk makanannya dan sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk nafasnya. Hadits ini merupakan batasan dalam makan dan larangan makan terlalu kenyang, dan anjuran makan dengan sewajarnya maka yang dimaksud dengan sepertiga (ats-tsuluts) dalam hadits ini adalah sebagai batasan. At-Taibi rahimahullah berkata yang harus di tekankan dalam hadits ini adalah dalam Mengkonsumsi makanan tidak melebihi batas yang dibutuhkan yaitu sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya dan untuk menguatkan dalam beribadah kepada Allah, akan tetapi jika ingin lebih dari itu maka jangan melebihi batas yang disebutkan. al-Ghazali berkata hadits ini dihadapkan kepada para ahli kedokteran maka mereka merasa heran terhadap hadits tersebut dan mengatakan belum pernah mendengar suatu ungkapan dalam hal mensedikitkan makan melebihi ungkapan ini demi Allah sungguh ini merupakan ungkapan yang sangat bijak.


4. Menghimpun Hadis-hadis yang terjalin dalam satu tema yang sama.
Penghimpunan hadits-hadits dalam satu tema yang sama dilakukan agar suatu hadits tertentu dapat dipahami secara utuh, komprehensif dan tidak terpecah-pecah, karena pemahaman terhadap hadits yang terpecah akan membawa konsekuensi kesalahan dalam mengamalkan ajaran Islam yang telah di sampaikan oleh Nabi saw.
Hadits-hadits tentang etika makan selain ditemukan larangan makan berlebihan dan anjuran untuk membagi perut dalam sepertiga makan sepertiga minum dan sepertiga udara untuk nafasnya, ditemukan juga hadits-hadits yang berkaitan dengan tema etika makan. Hadits-hadits tersebut diklasifikasikan sebagai berikut ;
1. Membaca basmalah sebelum memulai makan, makan dengan tangan kanan dan makan dari yang terdekat ;
حدثنا ابو بكر بن شيبة وبن عمر جمبعا عن سفيان قال ابوكرحدثنا سفيان بن عيينة عن الوليد ابن كثير عن وهب بن كيسان سمعه من عمربن سلمة قال كنت في حجر رسول الله صلى الله عليه وسلم عن وكانت يدى تطيش فى الصحفة فقال لى يا غلام سم الله وكل بيمينك وكل مما يليك (رواه مسلم)

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibn syaibah dan Ibn 'Umar semuanya meriwayatkan dari Sufyan abu Bakar berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan ibn 'Uyainah dari al-Walid ibn Katsir dari Wahab ibn Kisan ia mendengarnya dari 'Umar ibn salamah ia berkata dulu diamasa Nabi saw ketika tanganku berada di salah satu nampan kemudian Nabi saw bersabda kepada "Ya Ghulam Makanlah dengan menyebut nama Allah, serta makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari makanan yang dekat denganmu". (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjelaskan tentang tatacara makan yang diperintahkan oleh Nabi saw meliputi tiga hal yaitu membaca bismillah sebelum makan, makan dengan tengan kanan dan mengambil makanan yang paling dekat terlebih dahulu.
2. Membaca hamdalah setelah makan
حدثنا ابو سعيد الأشجع حدثنا حفص بن عياش وأبو خا لد عن مولى لابى سعيد عن ابى سعيد رضي الله عنه قال كان النبي صلى الله عليه وسلم أذا أكل أوشرب قال الحمد لله الذى أطعمنا وسقانا وجعلنا مسلمين (رواه الترمذى)

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Abu sa'id al-Asy ja'I telah menceritakan kepada kami Hafs ibn 'Iyasy dan Abu Khalid dari Maula untuk Abu Sa'id dari Abi Sa'id r.a. berkata adalah Nabi saw apabila dia telah selesai makan atau minum lalu membaca al-hamdulillāhilladzi ath 'amanā wa saqānā waja'alanā muslimin (segala puji bagi Allah yang telah memberi makan dan minum kepada kami serta jadikanlah kami termasuk orang-orang muslim) (HR Tirmidzi)
وعن معاذبن انس رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من اكل طعاما فقال :الحمد لله الذى اطعمنى هذا ورزقنيه من غير حول منى و لا قوة غفر له ما تقدم من ذنبه (رواه ابو داود والترمذى وقال حديث حسن)

Artinya : Dari Mu'adz bin Anas r.a. berkata Rasulullah saw bersabda :" Barang siapa yang memakan makanan kemudian membaca : alhamdulillahilladzii ath'amana warazaqaaniihi min ghairi haulin minniiwala quwwatin (segala puji bagi Allah, dzat yang telah memberi makanan ini kepada saya, dan telah mengaruniakan rizki ini dengan tiada daya dan kekuatan dari diri saya), maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu". (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

3. larangan mencela makanan dan anjuran untuk memujinya
عن ابى هريرة رضي الله عنه قال : ما عاب النبي الله صلى الله عليه وسلم طعاما قط, ان شتهاه اكله وان كرهه تركه. (متفق عليه)

Artinya: Dari Abu Hurairah ra. Berkata :"Rasulullah saw sama sekali tidak pernah mencela makanan. Bila beliau suka maka beliau memakannya dan bila tidak suka beliau meninggalkannya". (HR Bukhari dan Muslim)

4. keutamaan makan secukupnya dan tidak berlebihan

عن أبى هريرة رضضي الله عنه قال:قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :اللهم اجعل رزق آل محمد قوتا. (متفق عليه)
Artinya: Dari Abu Hurrairah ra berkata Rasulullah saw bersabda Ya Allah berilah keluarga Muhammad dengan rizki yang hanya bisa untuk menghilangkan rasa lapar saja (HR Bukari dan Muslim)

عن عائشة رضي الله عنها قالت :ما شبع آل محمد صلى الله عليه و سلم من خبز شعير يومين متتابعين حتى قبض (متفق عليه), وفي رواية : ما شبع آل محمد صلى الله عليه و سلم منذ قدم المدينة من طعام البر ثلاث ليال تباعا حتى قبض

Artinya : Dari Aisyah berkata keluarga Muahammad saw tidak pernah kenyang dari roti gandum dalam waktu dua hari berturut-turut sehingga beliau meninggal dunia (HR Bukhari Muslim) , Dalam riwayat lain dikatakan sejak menetap di Madinah keluarga muhammad saw tidak pernah kenyang dari makanan yang terbuat dari gandum dalam waktu tiga malam berturut-turut sampai beliau meninggal.

وعن عائشة رضي الله عنها قالت : توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم ودرعه مرهونة عند يهودي في ثلا ثين صاعا من شعير.( متفق عليه)

Artinya : Dari Aisyah ra berkata“Sewaktu Rasulullah saw menghembuskan nafas terakhir baju besinya baru digadaikan kepada orang Yahudi sebagai tanggungan dari tuga puluh gantang gandum. (HR Bukari dan Muslim)

حدثنا محمد بن بشار حدثنا عبد الصمد حدثنا شعبة عن واقد ابن محمد عن نافع قال كان ابن عمر لا يأ كل حتى يأتي بمسكين يأكل معه فأكل كثيرا فقال يا نا فع لا تدخل هذا علي سمعت البي صلى الله عليه و سلم يقول المؤمن يأكل في معا واحد والكافر يأكل في سبعة امعاء (رواه البخارى)

Artinya : Seorang mukmin makan dengan satu usus sedangkan orang kafir makan dengan tujuh usus.(HR Bukhari)

حدثنا سويد ابن نصر أخبرنا عبد الله ابن المبارك أخبرنا إسماعيل ابن عياش حدثني أبو سلمة الحمصى وحبيب بن صالح عن يحي بن جابر الطائ عن مقدام ابن معدي كرب قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ما ملأ آدمى وعاء شرا من بطن بحسب ابن آدم أكلات يقمن صلبه فإن كان لا محالة فثلث لطعامه وثلث لشرابه وثلث لنفسه

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Suwaid ibnu Nasr telah mengkhabarkan kepada kami Abdullah ibn Mubarak telah mengkhabarkan kepada kami Isma’il ibn ‘Iyas telah menceritakan kepadaku Abu Salamah al-Himsi dan Habib Ibn Shalih dari Yahya bin Jabir at-Thani dari Abi karimah al-Miqdad bin karbin r.a ia berkata “ Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda“ Tidaklah lebih berbahaya seseorang itu memenuhi suatu bejana melebihi bahayanya memenuhi perut, cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya dan seandainya ia tidak mampu berbuat seperti itu maka sepertiga makan, sepertiga minum, sepertiga untuk nafasnya.
(HR Tirmidzi)

Dari hadits di atas, jelaslah bahwa mengisi perut secara berlebihan meskipun dengan makanan yang halal, tetap dilarang dan mesti dihindari. Sebab, mengisi perut dengan berlebihan dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit seperti kolesterol, penyakit gula, jantung, dan berbagai jenis penyakit lainnya. Di samping itu, Hadits tersebut berkaitan dengan norma (ukuran) dalam hal makan yang dicontohkan oleh Nabi saw. Orang yang makan berlebihan disifati oleh Nabi saw sebagai orang yang rakus sehingga Nabi saw berpesan tidak sepatutnya anak Adam memenuhi perutnya melebihi yang dibutuhkan. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya kalu ia terpaksa harus melakukannya lebih dari itu maka harus mempertimbangkan perutnya dengan sepertiga untuk makannya sepertiga minum dan sepertiga untuk nafasnya. Seseorang yang makan berlebihan termasuk menyerupai orang kafir, orang yang beriman digambarkan oleh Nabi saw dengan makan dari satu usus sedangkan orang kafir makan dengan tujuh usus.
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ia adalah salah seorang istri Nabi saw sehingga tahu akan kondisi rumah tangga Nabi saw. Bahwa Nabi saw tidak pernah kenyang dengan roti gandum dalam waktu dua hari berturut-turut sehingga beliau meninggal dunia, bahkan dalam doanya beliau memohon kepada Allah agar diberikan rizki sekedar untuk dapat menghilangkan rasa lapar. Sampai ketika Nabi saw menghembuskan nafas terakhir baju besinya baru digadaikan kepada orang yahudi sebagai tanggungan dari tuga puluh gantang gandum. Beberapa hadits tersebut juga menunjukkan sikap dan kezuhudan Nabi saw dalam hal makan. Sedangkan ulama hadits di antaranya at-Tirmidzi mengelompokkan hadits tentang perintah makan secara proposional tersebut dalam kitab dengan judul kezuhudan Nabi saw pada bab makruhnya terlalu banyak makan, Sunan Ibn Majah menyusunnya dalam kita al-At’imah makanan pada bab berhemat (tidak berlebihan) dalam hal makan dan makruhnya kenyang sedangkan Imam an-Nawawi menempatkan hadits ini dalam kitabnya Riyadhus as-Salihin pada bab keutamaan lapar, kesederhanaan hidup, berhemat dalam hal pakaian, minuman, serta mengekang hawa nafsu.
Ajaran Islam merupakan ajaran solihun likulli zaman wa makan (ajaran yang sesuai pada setiap waktu dan tempat) yang akan membawa pengikutnya untuk selamat di dunia dan akhirat. Islam memahami bahwa makan dan minum merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi, tetapi jika dalam pemenuhan kebutuhan tersebut melebihi yang dibutuhkan maka akan menimbulkan penyakit yang beragam. Oleh karena itu hendaknya makan secukupnya dengan memenuhi gizi yang seimbang maka akan menjadikan tubuh akan tetap sehat sehingga akan menambah semangat dalam menjalankan ibadah. Islam tidak pernah melarang umatnya untuk menikmati fasilitas dunia, karena memang semuanya diciptakan untuk manusia, namun yang tidak boleh adalah berlebihan dan melampaui batas.
B. Hadits Etika Makan dalam Tinjauan Ilmu Kesehatan

Beberapa ajaran Islam banyak yang terkait dengan kesehatan jasmani di antaranya larangan untuk makan bangkai. Hewan yang mati tanpa disembelih kemungkinan ada dua faktor pertama karena usia yang sudah tua kedua karena penyakit yang terdapat pada hewan tersebut. Jika hewan mati karena sakit maka orang yang memakannya akan dihadapkan penyakit menular melaui dua jalur yakni perpindahan bakteri secara langsung apabila tidak dipanaskan dengan baik dan mungkin karena lemak yang mengnandung bakteri yang tidak mungkin membunuhnya dengan dipanaskan itulah yang menyebabkan kan meracuni makanan.
Hadits Nabi saw yang terkait dengan mengatur pola makan adalah sebagai berikut :
حدثنا أبو المغيرة قال حدثنا سليمان ابن سليم الكنانى قال حدثنا يحيى ابن جابر الطائ قال سمعت المقدام بن معدى كرب الكندى قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ما ملأ آدمى وعاء شرا من بطن بحسب ابن آدم أكلات يقمن صلبه فإن كان لا محالة فثلث طعام وثلث شراب وثلث لنفسه.
. .
Artinya : Telah menceritakan kepada kami Abu al-Mughirah ia berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibn Salim al-Kinani berkata telah menceritakan kepada kami Yahya ibn Jabir at-Tha i ia berkata saya telah mendengar al-Miqdad bin kariba r.a ia berkata “ Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda“ Tidaklah lebih berbahaya seseorang itu memenuhi suatu bejana melebihi bahayanya memenuhi perut, cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya dan seandainya ia tidak mampu berbuat seperti itu maka sepertiga makan, sepertiga minum, sepertiga untuk nafasnya. (HR Ahmad)

Seiring dengan tekhnologi pengetahuan yang semakin maju maka dalam memahami hadis perlu adanya pendekatan dengan ilmu pengetahuan yang tekait untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif. Usaha inilah merupakan upaya rasionalisasi tradisi (ma'qulyyah) hadis, yang berarti menjadikan makna hadis lebih kotekstual dengan kondisi sekarang ini.
Menurut ilmu kesehatan makanan adalah bahan selain obat yag mengandung zat-zat gizi dan atau unsur-unsur/ikatan kimia yang dapat diubah menjadi zat gizi oleh tubuh yang berguna bila dimasukkan ke dalam tubuh Mengkonsumsi makanan hendaknya secara proposional dengan mempertimbangkan kondisi tubuh seseorang, karena kondisi tubuh masing-masing orang berbeda. Kekurangan dan kelebihan makanan bagi seseorang akan berdampak buruk pada kesehatan. Kekurangan gizi menyebabkan beberapa gangguan dan dapat menghambat perkembangan tubuh di antaranya ;
1. Menghambat proses pertumbuhan pada anak, hal ini terlihat pada anak-anak yang berasal dari keluarga dengan tingkat sosial ekonomi menengah ke atas rata-rata lebih tinggi daripada anak-anak yang bersal dari keluarga dengan sosial ekonomi rendah.
2. Dapat menyebabkan kekurangan energi sehingga tubuh menjadi lemas kekurangan tenaga untuk bekerja dan melakukan aktifitas.
3. Menyebabkan daya tahan tubuh seseorang akan menurun karena sistim imunitas dan antibodi berkurang sehingga tubuh mudah tekena penyakit seperti batuk, pilek dan sebagainya.
4. Menyebabkan gangguan fungsi otak secara permanen
5. Selanjutnya kekurangan gizi dapat berdampak buruk pada perilaku seseorang, yaitu seseorang yang kekurangan gizi akan cenderung bersikap tidak tenang, mudah tersinggung, cengeng dan apatis.
Mengkonsumsi makanan secara berlebihan dapat menyebabkan kegemukan atau obesitas, kegemukan (obesitas) dapat di definisikan sebagi kelompok kelebihan bobot badan 20% di atas setandar. Obesitas merupakan refleksi ketidak seimbangan antara konsumsi energi dan pengeluaran energi. Penyebab obesitas ada yang bersifat exogenous yaitu konsumsi energi berlebihan dan penyebab endogenous yang berarti adanya gangguan metabolik didalam tubuh misalnya tumor pada hipotalamus sehingga si penderita mengalami hiperphogia (nafsu makan berlebihan ) obesitas ikut diduga menjadi penyebab penyakit hipertensi, jantung koroner, diabetes mellitus dan penyakit pernafasan. Orang-orang obes ternyata kurang sensitif terhadap rasa lapar (internal) tetapi mereka lebih peka terhadap bau dan rasa makanan (eksternal) jadi mereka cenderung untuk makan terus selama dihadapannya terdapat makanan
Dalam Widya Karya Nasional pangan dan gizi (1988) ditetapkan kebutuhan energi dan zat gizi menurut kelompok umur dan berat badan sebagai berikut ; Aneka kecukupan gizi yang dianjurkan .
Umur (th) Pria.
10-12
13+15
16+19
20-59
> 60
Umur(th)Wanita
10-12
13-15
16+19
20+59
>60 Berat badan (kg)
30
40
53
56
56
Berat badan (kg)
32
42
46
50
50 Energi (kal)
1950
2200
2300
2700
1960
Energi (kal)
1750
1900
1850
2100
1700 Protein
45
57
62
50
50
Protein
49
57
47
44
44
Diambil dari buku Pangan dan Gizi Untuk Kesehatan oleh Ali Khomsan halaman 90.
Dengan ketetapan tersebut di atas setiap orang dapat memperkirakan berapa sebenarnya, kebutuhan energi yang dibutuhkan setiap harinya
Gaya hidup di era modern dengan aktifitas yang sedikit (ringan) akan memudahkan terjadinya penumpukan lemak tubuh, proses timbulnya lemak di sekeliling tubuh manusia berlangsung perlahan-lahan lama dan seringkali tidak kita sadari. Mengkonsumsi lemak tinggi akan merangsang kebutuhan glutation sehingga mengalami glutation rendah. Glutation adalah bioarker yang sangat tepat untuk membedakan individu yang sakit dan individu yang sehat. Mereka yang glutation nya tinggi dapat mengurangi risiko menderita tekanan darah tinggi sakit jantung diabetes dan infeksi saluran kemih. Glutation tersusun dari asam-asam amino dan dihasilkan dalam setiap sel tubuh glutation berfungsi sebagai anti oksidan yang melindungi sel-sel tubuh dari radikal bebas. Makanan yang dapat meningkatkan kadar glutation tubuh adalah sayuran sebangsa kubis, buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C akan bermanfaat untuk mempertahankan glutation tetap tinggi. Vitamin C 500mg sehari dapat menjamin glutation tubuh tetap tinggi, penelitian di Arizona State University membuktikan bahwa konsumsi vitamin C 500 mg selama dua minggu dapat meningkatkan kadar glutation tubuh mencapai 50%. Tetapi dosis vitamin C yang lebih tinggi tidak lagi dapat meningkatkan kadar glutation untuk menjadi lebih tinggi. Dibawah ini daftar berbagai jenis sayuran dan buah yang mengandung glutation relatif tinggi.




Buah / sayuran (porsi biasa) Glutation (mg)
Alpukat
Semangka
Jeruk
Strawberi
Kentang
Tomat
Wortel
Bayam 313
28.3
14.6
11.9
27.7
10.9
5.9
5.0
Sumber Buku solusi makanan sehat oleh Ali Khomsan.
Keseimbangan konsumsi gizi dan aneka ragam makanan tidak perlu diukur dengan berapa gram kita makan nasi, daging telur, sayur, dan buah dalam sehari. Tetapi biarkan tubuh menakar sendiri berapa kebutuhannya. Badan kita akan terasa tidak enak kalau tidak makan sayur atau buah karena metabolisme karbohidrat dari nasi sebenarnya sangat dibantu oleh kehadiran vitamin yang terdapat dalam sayur atau buah. Demikian pula kalau kita makan nasi terlalu sedikit maka kita akan cepat lelah karena kurangnya suplai karbohidrat yang akan menjadi energi tubuh. Dengan tehnik toleransi tubuh inilah kita bisa hidup sehat tanpa harus mendewakan bahwa satu jenis makanan mempunyai khasiat lebih tinggi ketimbang lainnya karena kondisi tubuh yang prima adalah akibat dari konsumsi aneka ragam makanan yang seimbang. Dengan adanya berbagai jenis makanan fast food (cepat saji) tentunya banyak mengandung zat-zat kimia yang jika terlalu banyak akan menimbulkan dampak negatif pada tubuh seseorang maka dalam menyikapi hal tersebut dengan bijak dengan menerapkan prinsip kita boleh Mengkonsumsi makanan apa saja asal tidak berlebihan kita harus bersikap rasional untuk mengetahui dan menakar apa yang masuk dalam perut kita dan bagaimana dampak makanan tersebut terhadap setatus gizi dan kesehatan kita. Maka dalam Mengkonsumsi makanan kita perlu berpedoman pada pedoman umum gizi seimbang (PUGS)
Pada tahun 1992 telah diselenggarakan konggres gizi internasional di Roma yang membahas tentang pentingnya gizi seimbang sebagai upaya untuk menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang handal. Salah satu rekomendasi penting dari konggres itu adalah anjuran kepada setiap negara agar menyusun pedoman umum gizi seimbang (PUGS). Di Indonesia pernah diperkenalkan pedoman 4 sehat 5 sempurna padatahun 1950 dan sampai sekarang pedoman ini masih dikenal oleh sebagian anak sekolah dasar. Slogan 4 sehat 5 sempurna saat itu sebenarnya adalah merupakan bentuk implementasi PUGS.
Dalam pedoman umum gizi seimbang terdapat 12 (dua belas) pesan yang perlu diperhatikan yaitu : (1) makanlah aneka ragam makanan, (2) makanlah makanan yang memenuhi kecupan energi, (3) pilihlah makanan berkadar lemak sedang dan rendah lemak jenuh, (4) gunakan garam beryodium, (5) makanlah makanan sumber zat besi, (6) berikan ASI saja kepada bayi sampai umur 4 bulan dan tambahkan MP-ASI sesudahnya, (7) biasakan makan pagi (8) minumlah air bersih, aman yang cukup jumlahnya, (9) lakukan aktifitas fisik secara teratur, (10) hidari minumanyang berakohol, (11) makanlah makanan yang aman bagi kesehatan, (12) bacalah label pada makanan yang dikemas.





















BAB V
KESIMPULAN DAN PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan bab-bab sebelumnya, maka peneliti membuat beberapa kesimpulan, sebagai berikut :
1. Berdasarkan hasil penelitian sanad dan matan hadits tentang bahaya makan berlebihan dan anjuran membagi perut dalam tiga bagian makanan minuma dan udara untuk bernafas dari jalur riwayat Ahmad Ibn Hanbal, bahwa kualitas hadits tersebut adalah shahih dengan indikasi bahwa seluruh periwayat dalam sanad hadis tersebut adalah Tsiqqah (terpercaya) serta sanadnya bersambung. Sedangkan matan hadits tersebut secara makna tidak bertentangan baik dengan ayat al-qur'an maupun dalam ilmu kesehatan pada masa sekarang. Sehingga hadits ini dapat dijadikan hujjah untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Bahwa hadits tentang etika makan yang berkaitan dengan larangan makan berlebihan dan anjuran membagi perut sepertiga makan sepertiga minum dan sepertiga udara untuk bernafas diteliti dengan menggunakan metode Ma'anil hadits. Pertama para ulama memahami hadits tersebut buruknya (bahaya) makan berlebihan adalah karena karena seakan-akan ia menjadikan perutnya hanya sebagai tempat menampung makanan saja sehingga ia akan makan melebihi batas keawajaran. Banyak penyakit yang membahayakan (degenaratif) timbul karena pola makan tidak teratur (berlebihan) seperti hipertensi, Jantung koroner, diabetes mellitus, dan sebagainya. Makan berlebihan membuat seseorang malas beribadah dan menyia-nyiakan waktu sehingga seseorang dapat terjerumus dalam kema'siatan. Kedua Di samping itu bahwa hadits ini terdapat anjuran untuk mebagi perut dalam sepertiga makan sepertiga minum dan sepertiga udara .Kata (ats-tsuluts) sepertiga dalam hadits ini adalah bermakna sebagai batasan artinya dalam Mengkonsumsi makanan tidak melebihi batas yang dibutuhkan yaitu sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya dan untuk menguatkan dalam beribadah kepada Allah, akan tetapi jika ingin lebih dari itu maka jangan melebihi batas sepertiga.

B. Saran-Saran
1. Bagi kaum muslimin hendaknya makan secukupnya dengan memperhatikan kandungan gizi dan fitamin yang seimbang. Mengisi perut secara berlebihan meskipun dengan makanan yang halal, tetap dilarang dan mesti dihindari.
2. Bagi pihak-pihak yang berkopenten dengan masalah kesehatan baik dikalangan dokter maupun para cendekiawan muslim hendaknya melakukan sosialisasi kepada masyarakat umum, tentang pentingnya mengatur pola makan yang simbang sehingga akan terhindar dari berbagai penyakit dan menjadikan tubuh tetap sehat.



DAFTAR PUSTAKA


An-Nawawi, Riyadhussalihin, penerjemah : Muslich Shabir, (Semarang: Toha Putra, 1981)

al-Mahalli,Jalaluddin dkk, Jalalain,jilid 1, (Bandung ; PT Sinar Baru Algensindo, 2000)

al-Khatib, Muhammad A'jaj, Usul Hadits 'Ulumuhu wa Musthalahuhu, (Baerut : Dar al-Fikr, 1985)

al-Jazairi, Abu Bakar Jabir Minhajul Muslim (konsep Hidup Ideal Muslim) terj Fadhil Bhari, (Jakarta : Darul haq, 2006)

Abu Zahw, Muhammad, al-Hadis wa al-Muhadditsun, (Kairo: al-Maktabah at-taufiqiyyah,1378 H)

Arsyad,M. Natsir Seputar al-Qur’an Hadis dan Ilmu, Bandung: al-Bayan, 1995)

Ali Ash-shobuni, Muhammad, Mukhtashor TafsirIbnu Katsir jilid 1, cet 1 (Beirut : Darul kutub al Ilmiya, 2000).

Al-Ghazali, Studi Kritis Atas Hadis Nabi saw antara Pemahaman Tekstual dan kontekstual, (Bandung : PT.MIZAN, 1996).

al-Mubarak Furi, Abu al-'Ali Abdur Rahim, Tuhfadzu al-Ahfadzi bi syarh Jami' at-Tirmidzi, (Baerut : Dar Ihya at-Turats al-Arabi, 2001)

al-asqalani, Ibn Hajar,Tahdzib at-Tahdzib, Juz II, cet 1, ( Baerut: Daar al-Fikr, 1995)
-----------------------, al Isobah fi tamyis as-Sahabah, (Baerut : Daar al-kutub al-Ilmia,2005)

Abdul Mun'im al-Jamali,Muhammad, al-Farid, (t.tp : t.p, t.th),

CD Mausu’ah al-Hadits al-Syarif al-Kutub al-Tis’ah , VCR II Global Islamic Sofware Company Syirkah al-Barra min al-islamiya

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung,CV Diponegoro, 2003).

Douglas Wetherel, MS Dean J Kerelake MD facc , Yang Perlu anda ketahui Kolesterol Tinggi, (Jakarta: PT.Elex Media komputindo, 2001)

Hartono Andri, ”Diet sukses dibantu air”.Intisari, no 546 edisi, (Jakarta: Januari, 2009).

Hidayat A. Aziz Alimul dkk, Kebutuhan Dasar Manusia, (Jakarta; PT Penerbit buku Kedokteran EGC, 2002).

HAMKA, Tafsir Al-Azhar, juz 2 (Jakarta : Panjimas, 2002)
Isma'il, Syuhudi Kaedah kesahihan Sanad Hadits, (Jakarta : PT.Bulan Bintang,1995),

------------------, Metodologi Penelitian Hadits, (Jakarta : PT.Bulan Bintang,1992),

Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, (Baerut : Daarul al-Kutub al-Ilmia, 2002)

Ibn Katsir, Tarjamah singkat Tafsir Ibn Katsir, terj Salim Bahreisy dkk,jilid III (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1993)

Khomsan, Ali, Solusi Makanan Sehat, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada,2006)

--------------, Pangan dan Gizi Untuk Kesehatan, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada,2006)

Karim, Saiful dkk, Belajar (Ipa membuka cakrawala Alam sekitar) untuk kelas VIII sekolah menengah Pertama/madrasah Tsanawiyah,(Semarang: PT Mascom Graphy, 2008)

ibn Hanbal, Ahmad, Musnad Ahmad, Jilid 5, (Baerut: Daarul Ihya at-Turats al-‘Ali, 1993)

Kamus Bahasa Indonesia Pusat Pembinaan dan Pengembangan bahasa Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1983)

kamus al-Munjid al-Abjadi, cet III, (Baerut : Daar al-Masyriq, 1986)

Las Helset, Kolesterol yang Perlu Anda Ketahui, terj Anton Adi wiyoto, ( Jakarta : PT. Kesaint Blanc, IKADI, 2002)

Ma’sum, Ali dkk.,Al-Munawwir kamus Arab Indonesia, (Surabaya, PT. Pustaka Agresif,1997).

Mahmud Thahan, Metode Tahkrij dan penelitian sanad Hadis, terj Ridwan nasir, (Surabaya:PT Bina Ilmu, 1995)

Ni’mah,Fuad, Mulakhas fi qawa’id Lughah al-‘Arabiyah , cet 9. (Daamaskus: Darul hikmah)

Poerwadarminta,KamusUmum Bahasa Indonesia,( Jakarta: Balai Pustaka, 1976)

Qardhawi, Yusuf, Bagaimana Memahami Hadis Nabi saw , terj Muh Baqir, (Bandung: PT Karisma,1993)

------------------, Studi Kritis As-Sunnah, terj Bahrun Abu Bakar, (Bandung : TRIGENDA KARYA, 1995)
Rahman, Fatchur, Ikhtisar Musthalahul Hadits, (Bandung : PT al-Ma'arif, 1974)

Salim, Peter Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. edisi 1 (Jakarta: PT. Modern English Pres, 1991)

Sabiq, Sayyid, Fiqih Sunnah, jilid 4 (Jakarta:PT Pena Pundi Aksara, 2006)

Sunita Almatsier, Prinsip Dasar Ilmu Gizi,( Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2003)

Suryadi, Metode Kontemporer Memahami Hadis Nabi perspektif M al-Ghazali dan Yusuf Qardhawi, (Yogyakarta : Teras, 2008),

Studi kitab Hadis, pengantar Abdu Rahman, cet 1, (Yogyakarta: Teras Pres, 2003)

Sihab, M Quraish, Tafsir al-Misbah, Vol l , (Jakarta : Lentera hati, 2000)

Suparta, Mundzir, Ilmu Hadits, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2002)

Syauqi al-fanjari, Ahmad, Nilai Kesehatan dalam Syari'at Islam, (Jakarta: PT Bumi Aksara,2005)

Tirmidzi, Kitab Sunan Tirmidzi, tahqiq Mahmud Muhammad Mahmud Hasan Nasr , jilid 3, cet-1, (Baerut: Daarul kutub al-Ilmia, 2000)

D Wiranda G. Piliang dan soewondo Djojosoebagio, Fisiologi Nutrisi, Vol 1, (Bogor: IPB Pres, 2006).

Zuhri, Muhammad, TELAAH MATAN HADIS (Sebuah Tawaran Metodologis), (Yogyakarta ;LESFI, 2003).

http://www.inilah.com/berita/gaya-hidup/2008/08/16/44252/penderita-hipertensi-harus-disiplin/ di akses pada tagl 19 Mei 2009.

http://muhammadzulifan.multiply.com/journal/item/14

http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one-news.asp?IdNews=362.

http://pudiknakes.or.id/persinew/?show=detailnews&kode=241&tbl=cakrawala. diakses pada tgl 18 Mei 2009

http://id.wikipedia.org/wiki/Bani_Israil

http://syofyanhadi.blogspot.com/2008/07/bahaya-makan-dan-minum-berlebihan.html

http://www.gizi.net/pugs/index.shtml

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar